Senin, 03 Juni 2013

it's aLL about Askep Abortus

Abortus atau keguguran adalah berakhirnya suatu kehamilan kurang dari 20 minggu oleh akibat tertentu. Hal ini ditunjukkan dengan adanya pengeluaran hasil pembuahan sebelum bayi hidup di luar kandungan.

Dari seluruh kehamilan yang terjadi, 15 % atau satu dari tujuh kehamilan mengalami keguguran atau abortus spontan, sedangkan sekitar 3-4% mengalami keguguran berulang. Gejala dan tanda keguguran sering dianggap sebagai pengeluaran darah haid biasa sehingga yang bersangkutan seringkali tidak menyadari bahwa telah terjadi kehamilan pada dirinya

Ditaksir, 2,3 juta abortus tidak aman terjadi setiap tahun di Indonesia. “Sebanyak 1 juta keguguran spontan, 700 ribu karena kehamilan tidak diinginkan, dan 600 ribu karena kegagalan KB,” ujar Kepala Komite Ahli Kesehatan Reproduksi, Roy Tjiong. Dari hasil penelitian, Roy mengatakan, 15%  aborsi dilakukan oleh kelompok usia remaja kurang dari 20 tahun. Rata-rata kehamilan yang menjalani aborsi atau digugurkan adalah kehamilan tanpa alat kontrasepsi. “Dan perlu diketahui, risiko kematian pada kehamilan remaja dua kali lebih tinggi”.

Kegawatdaruratan serius yang bisa timbul akibat aborsi adalah pendarahan hebat, infeksi disebabkan oleh alat medis tidak steril yang dimasukkan ke dalam rahim atau sisa janin yang tidak dibersihkan dengan benar, aborsi tidak sempurna karena adanya bagian dari janin yang tersisa di dalam rahim sehingga dapat menimbulkan perdarahan atau infeksi,  sepsis (keracunan darah), kerusakan leher rahim, kerusakan organ lain.
Saat alat dimasukkan ke dalam rahim, maka ada kemungkinan alat tersebut menyebabkan kerusakan pada organ terdekat seperti usus atau kandung kemih, gngguan kesehatan mental dan kematian.

Peran perawat dalam penanganan abortus dan mencegah terjadinya abortus adalah dengan memberikan asuhan keperawatan yang tepat. Asuhan keperawatan yang tepat untuk klien harus dilakukan untuk meminimalisir terjadinya komplikasi serius yang dapat terjadi seiring dengan kejadian abortus.

A.      Konsep Dasar
1.         Definisi
Abortus adalah berakhirnya kehamilan dengan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan dengan usia gestasi kurang dari 20 minggu dan berat janin kurang dari 500 mg (Murray, 2002).

2.         Etiologi
Etiologi yang menyebabkan terjadinya abortus adalah sebagai berikut :
a.         Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi : kelainan kromosom, lingkungan nidasi kurang sempurna dan pengaruh luar.
b.        Infeksi akut, pneumonia, pielitis, demam tifoid, toksoplasmosis dan HIV.
c.         Abnormalitas traktus genitalis, serviks inkompeten, dilatasi serviks berlebihan, robekan serviks dan retroversio uterus.
d.        Kelainan plasenta.

1.         Klasifikasi
Klasifikasi abortus adalah sebagai berikut :
a.         Abortus iminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan selama 20 minggu, saat hasil konsepsi masih dalam uterus tanpa adanya dilatasi serviks.
b.        Abortus insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uterus yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus.
c.         Abortus inkompletus adalah pengeluaran hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih adanya sisa yang tertinggal dalam uterus.
d.        Abortus kompletus adalah abortus yang hasil konsepsinya sudah dikeluarkan.
e.         Abortus servikalis adalah keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium uterus eksternum yang tidak membuka, sehingga semuanya terkumpul dalam kanalis servikalis uterus menjadi besar, kurang lebih bundar dengan dinding menipis.
f.         Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih.
g.        Abortus habitualis adalah abortus yang berulang dengan frekuensi lebih dari 3 kali.
h.        Abortus septik adalah abortus inveksius berat disertai penyebaran kuman atau toksin kedalam peredaran darah atau peritoneum.

2.         Manifestasi Klinis
Diduga abortus apabila seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh tentang :
a.         Perdarahan pervagina setelah mengalami haid yang terlambat.
b.        Sering terdapat rasa mulas
c.         Keluhan nyeri pada perut bagian bawah.

3.         Komplikasi
Komplikasi serius yang bisa timbul akibat aborsi adalah:
a.         Pendarahan hebat
Jika leher rahim robek atau terbuka lebar akan menimbukan pendarahan yang dapat berbahaya bagi keselamatan ibu. Terkadang dibutuhkan pembedahan untuk menghentikan pendarahan tersebut.



b.        Infeksi
Infeksi dapat disebabkan oleh alat medis tidak steril yang dimasukkan ke dalam rahim atau sisa janin yang tidak dibersihkan dengan benar.
c.         Aborsi tidak sempurna
Adanya bagian dari janin yang tersisa di dalam rahim sehingga dapat menimbulkan perdarahan atau infeksi.
d.        Sepsis (keracunan darah)
Biasanya terjadi jika aborsi menyebabkan infeksi tubuh secara total yang kemungkinan terburuknya menyebabkan kematian.
e.         Kerusakan leher rahim
Kerusakan ini terjadi akibat leher rahim yang terpotong, robek atau rusak akibat alat-alat aborsi yang digunakan.
f.         Kerusakan organ lain
Saat alat dimasukkan ke dalam rahim, maka ada kemungkinan alat tersebut menyebabkan kerusakan pada organ terdekat seperti usus atau kandung kemih.
g.        Kematian
Meskipun komplikasi ini jarang terjadi, tapi kematian bisa terjadi jika aborsi menyebabkan perdarahan yang berlebihan, infeksi, kerusakan organ serta reaksi dari anestesi yang dapat menyebabkan kematian.
h.        Gangguan kesehatan mental
Aborsi dapat mempengaruhi emosional dan spiritual pelakunya. Gangguan mental kadang muncul seperti kecemasan, depresi atau mungkin mencoba melakukan bunuh diri.

4.         Penatalaksanaan
a.       Ibu hamil sebaiknya segera menemui dokter apabila perdarahan terjadi selama kehamilan.
b.      Istirahat total dan dianjurkan untik relaksasi.
c.       Terapi intravena atau tranfusi darah dapat dilakukan bila diperlukan.
d.      Pada kasus aborsi inkomplet diusahakan untuk mengosongkan uterus melalui pembedahan, begitu juga dengan kasus missed abortion jika janin tidak keluar spontan.
e.       Jika penyebabnya adalah infeksi, evakuasi isi uterus sebainya ditunda sampai dapat penyebab yang pasti untuk memulai terapi antibiotik.

8.         Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan penunjang yang umumnya dilakukan antara lain:
a.         Tes kehamilan akan menunjukkan hasil positif bila janin masih hidup bahkan 2-3 hari setelah abortus.
b.        Pemeriksaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup.
c.         Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion (Arif Mansjoer dkk, 2004).

A.      Asuhan Keperawatan
1.         Pengakajian
Jika selama kehamilan ditemukan perdarahan, indentifikasi :
a.         Lama kehamilan
b.        Kapan terjadi perdarahan, berapa lama, banyaknya dan aktivitas yang memengaruhi.
c.         Karakteristik darah : merah terang, kecoklatan, adanya gumpalan darah dan lendir.
d.        Sifat dan lokasi ketidaknyamanan seperti kejang, nyeri tumpul atau tajam, mulas serta pusing.
e.         Gejala-gejala hipovolemia seperti sinkop.
                          
2.         Diagnosa Keperawatan
Kemungkinan diagnosis keperawatan yang muncul adalah sebagai berikut :
a.         Kurangnya volume cairan berhubungan dengan kehilangan vaskular dalam jumlah berlebih.
b.        Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia.
c.         Ketakutan berhubungan dengan ancaman kematian pada diri sendiri dan janin.
d.        Nyeri berhubungan dengan dilatasi serviks trauma jaringan dan kontraksi uterus.
e.         Resiko tinggi tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan penahanan hasil konsepsi.

3.      Intervensi Keperawatan
a.         Diagnosa 1 : Kurangnya volume cairan berhubungan dengan kehilangan vaskular dalam jumlah berlebih.
Kriteria hasil : mendemonstrasikan kestabilan atau perbaiakan / perbaikan keseimbangan cairan dibuktikan oleh tanda-tanda vital stabil, pengisian kapiler cepat, sensorium tepat, serta pengeluaran dan berat jenis urine adekuat secara individual.

Rencana Intervensi
Rasional
Mandiri :
1.
Evaluasi, laporkan serta catat jumlah dan sifat kehilangan darah, lakukan perhitungan pembalut, kemudian timbang pembalut.
1.
Perkirakan kehilangan darah membantu membedakan diagnosis. Setiap gram peningkatan berat pembalut sama dengan kehilangan kira-kira 1 ml darah.
2.
Lakukan tirah baring, instruksikan ibu untuk valsalva manuver dan koitus.
2.
Perdarahan dapat berhenti dengan reduksi aktivitas. Peningkatan tekanan abdomen atau orgasme dapat merangsang perdarahan.
3.
Posisikan ibu dengan tepat, telentang dengan panggul ditinggikan atau posisi semifowler.
3.
Menjamin keadekuatan darah yang tersedia untuk otak, peninggian panggul menghindari kompresi vena kaya. Posisi semifowler memungkinkan janin bertindak sebagai tampon.
4.
Catat tanda-tanda vital, pengisian kapiler pada dasar kuku, warna membran mukosa atau kulit dan suhu. Ukur tekanan vena sentral bila ada.
4.
Membantu menentukan beratnya kehilangan darah meskipun sianosis dan perubahan pada tekanan darah dan nadi adalah tanda-tanda lanjut dari kehilangan volume sirkulasi.
5.
Pantau aktivitas uterus, status janin, dan adanya nyeri tekan pada abdomen.
5.
Membantu menentukan sifat hemoragi dan kemungkinan akibat dari peristiwa hemoragi.
6.
Hindari pemeriksaan rektal atau vagina.
6.
Dapat meningkatakan hemoragi.
7.
Pantau masukan / keluaran cairan. Dapatkan sampel urine setiap jam, ukur berat jenis
7.
Menentukan luasnya kehilangan cairan dan menunjukan perfusi ginjal.
8.
Auskultasi bunyi nafas.
8.
Bunyi nafas adventitus menunjukan ketidaktepatan / kelebihan pergantian.
9.
Simpan jaringan atau hasil konsepsi yang keluar.
9.
Dokter perlu mengevaluasi kemungkinan retensi jaringan, pemeriksaan histologi mungkin diperlukan.
Kolaborasi :
10.
Dapatkan pemeriksaan darah cepat : HDL jenis dan pencocokan silang, titer Rh, kadar fibrinogen, hitung trombosit, APTT dan kadar LCC.
10.
Menentukan jumlah darah yang hilang dan dapat membetikan informasi mengenai penyebab harus dipertahankan diatas 30% untuk mendukung transpor oksigen dan nutrien.
11.
Pasang kateter
11.
Haluaran kurang dari 30 ml/jam menandakan penurunan perfusi ginjal dan kemungkinan terjadinya nekrosis tubuler. Keluaran yang tepat ditentukan oleh derajat defisit individual dan kecepatan penggantian.
12.
Berikan larutan intravena, ekspander plasma, darah lengkap atau sel-sel kemasan sesuai indikasi.
12.
Meningkatkan volume darah sirkulasi dan mengatasi gejala-gejala syok.

b.        Diagnosa 2 : Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia.
Kriteria hasil : perfusi jaringan adekuat dibuktikan dengan denyut jantung janin (DJJ) dalam batas normal.

Rencana Intervensi
Rasional
Mandiri :
1.
Perhatikan status fisiologis ibu, status sirkulasi dan volume darah.
1.
Kejadian perdarahan potensial merusak hasil kehamilan. Kemungkinan menyebabkan hipovolemia / hipoksia uteroplasenta.
2.
Auskultasi dan laporkan DJJ. Catat bradikardi / takitardi. Catat perubahan pada aktifitas janin.
2.
Mengkaji berkanjutnya hipoksia janin, pada awalnya janin berespon pada penurunan kadar oksigen dengan takikardi dan peningkatan gerakan. Bila tetap defisit, bradikardi dan penurunan aktifitas terjadi.
3.
Catatan kehilangan darah ibu karena adanya kontraksi uterus.
3.
Bila kontraksi uterus disertai dilatasi serviks, tirah baring dan medikasi mungkin tidak efektif dalam mempertahankan kehamilan. Kehilangan darah ibu secara berlebihan menurunkan perfusi plasenta.
4.
Catat tinggi fundus uteri.
4.
Menghilangkan tekana pada vena kava inferior dan meningkatkan sirkulasi plasenta / janin dan pertukaran oksigen.
5.
Anjurka tirah baring pada posisi miring.
5.
Meningkatkan ketersediaan oksigen untuk janin. Janin mempunyai beberapa kepastian perlengkapan untuk mengatasi hipoksia, dimana disosiasi Hb janin lebih cepat daripada Hb dewasa dan jumlah eritrosit janin lebih besar dari dewasa, sehingga kapasitas oksigen yang dibawa janin meningkat.
Kolaborasi :
6.
Berikan suplemen oksigen. Lakukan sesuai indikasi.
6.
Mengevaluasi dengan menggunakan doppler respon DJJ terhadap gerakan janin, bermanfaat dalam menentukan apakah janin dalam keadaan asfiksia.
7.
Ganti kehilangan darah / cairan ibu.
7.
Mempertahankan volume sirkulasi yang adekuat untuk transpor oksigen. Hemoragi maternal memengaruhi transpor oksigen ultraplasenta secara negatif, menimbulkan kemungkinan kehilangan kehamilan atau memburuknya status janin. Bila penyimpanan oksigen menetap, janin akan kehilangan tenaga untuk melakukan mekanisme koping dan kemungkinan SSP rusak / janin, sehingga janin dapat meninggal.
8.
Bantu dengan ultrasonografi dan amniosentesis.
8.
Menentukan maturitas janin dan usia gestasi. Membantu menentukan viabilitas dan perkiraan hasil secara realistis.
9.
Dapatkan tes darah ibu untuk mengevaluasi serum ibu, darah Hb, atau produk lavase lambung.
9.
Membedakan darah ibu dari darah janin dalam cairan amnion menunjukan implikasi terhadap pemberian oksigen serta kebutuhan ibu terhadap injeksi imunoglobulin Rh (RhIgG) bila kelahiran terjadi.
10.
Siapkan ibu untuk intervensi bedah dengan tepat.
10.
Pembedahan perlu dilakukan bila terjadi pelepasan plasenta yang berat atau bila perdarahan berlebih, terjadi penyimpanan oksigen janin, dan kelahiran melalui vagina tidak mungkin seperti pada kasus plasenta previa total, dimana pembedahan mungkin perlu di indikasikan untuk menyelamatkan hidup janin.

c.         Diagnosa 3 : Ketakutan berhubungan dengan ancaman kematian pada diri sendiri dan janin.
Kriteria hasil : ibu mendiskusikan ketakutan mengenai diri janin dan masa depan kehamilan, juga mengenai ketakutan yang sehat dan tidak sehat.

Rencana Intervensi
Rasional
Mandiri :
1.
Diskusi tentang  situasi dan pemahaman tentang situasi ibu dan pasangan.
1.
Memberikan informasi tentang reaksi individu terhadap apa yang terjadi.
2.
Pantau respon verbal dan nonverbal ibu dan pasangan.
2.
Menandai tingkat rasa takut yang sedang dialami ibu / pasangan.
3.
Dengarkan masalah ibu dengan seksama.
3.
Meningkatkan rasa kontrol terhadap situasi dan memberikan kesempatan pada ibu untuk mengembangkan solusi sendiri.
4.
Berikan informasi dalam bentuk verbal dan tertulis serta beri kesempatan klien untuk mengajukan pertanyaan.
4.
Pengetahuan akan membantu ibu untuk mengatasi apa yang sedang terjadi dengan lebih efektif. Informasi sebaiknya tertulis, agar nantinya memungkinkan ibu untuk mengulang informasi akibat tingkat stres, ibu mungkin tidak dapat mengasimilasi informasi. Jawaban yang jujur dapat meningkatkan pemahaman dengan lebih baik serta menurunkan rasa takut.
5.
Libatkan ibu dalam perencanaan dan partisipasi dalam perawatan sebanyak mungkin.
5.
Menjadikan mampu melakukan sesuatu untuk membantu mengontrol situasi sehingga dapat menurunkan rasa takut.
6.
Jelaskan prosedur dan arti gejala.
6.
Pengetahuan dapat membantu menurunkan rasa takut dan meningkatkan rasa kontrol terhadap situasi.



DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda. (2001). Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta : EGC.
Hamilton, C. Mary, 1995. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, Edisi 6. Jakarta : EGC.
Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I.  Jakarta : Media Aesculapius.
Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta : Salemba Medika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar