Abortus atau keguguran
adalah berakhirnya suatu kehamilan kurang dari 20 minggu oleh akibat tertentu.
Hal ini ditunjukkan dengan adanya pengeluaran hasil pembuahan sebelum bayi
hidup di luar kandungan.
Dari seluruh kehamilan
yang terjadi, 15 % atau satu dari tujuh kehamilan mengalami keguguran atau
abortus spontan, sedangkan sekitar 3-4% mengalami keguguran berulang. Gejala
dan tanda keguguran sering dianggap sebagai pengeluaran darah haid biasa
sehingga yang bersangkutan seringkali tidak menyadari bahwa telah terjadi
kehamilan pada dirinya
Ditaksir, 2,3 juta
abortus tidak aman terjadi setiap tahun di Indonesia. “Sebanyak 1 juta
keguguran spontan, 700 ribu karena kehamilan tidak diinginkan, dan 600 ribu
karena kegagalan KB,” ujar Kepala Komite Ahli Kesehatan Reproduksi, Roy Tjiong.
Dari hasil penelitian, Roy mengatakan, 15%
aborsi dilakukan oleh kelompok usia remaja kurang dari 20 tahun.
Rata-rata kehamilan yang menjalani aborsi atau digugurkan adalah kehamilan
tanpa alat kontrasepsi. “Dan perlu diketahui, risiko kematian pada kehamilan
remaja dua kali lebih tinggi”.
Kegawatdaruratan serius
yang bisa timbul akibat aborsi adalah pendarahan hebat, infeksi disebabkan oleh
alat medis tidak steril yang dimasukkan ke dalam rahim atau sisa janin yang
tidak dibersihkan dengan benar, aborsi tidak sempurna karena adanya bagian dari
janin yang tersisa di dalam rahim sehingga dapat menimbulkan perdarahan atau infeksi, sepsis (keracunan darah), kerusakan leher
rahim, kerusakan organ lain.
Saat alat dimasukkan ke
dalam rahim, maka ada kemungkinan alat tersebut menyebabkan kerusakan pada
organ terdekat seperti usus atau kandung kemih, gngguan kesehatan mental dan kematian.
Peran perawat dalam
penanganan abortus dan mencegah terjadinya abortus adalah dengan memberikan
asuhan keperawatan yang tepat. Asuhan keperawatan yang tepat untuk klien harus
dilakukan untuk meminimalisir terjadinya komplikasi serius yang dapat terjadi
seiring dengan kejadian abortus.
A.
Konsep
Dasar
1.
Definisi
Abortus adalah
berakhirnya kehamilan dengan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat
hidup diluar kandungan dengan usia gestasi kurang dari 20 minggu dan berat
janin kurang dari 500 mg (Murray, 2002).
2.
Etiologi
Etiologi yang
menyebabkan terjadinya abortus adalah sebagai berikut :
a.
Kelainan pertumbuhan
hasil konsepsi : kelainan kromosom, lingkungan nidasi kurang sempurna dan
pengaruh luar.
b.
Infeksi akut,
pneumonia, pielitis, demam tifoid, toksoplasmosis dan HIV.
c.
Abnormalitas traktus
genitalis, serviks inkompeten, dilatasi serviks berlebihan, robekan serviks dan
retroversio uterus.
d.
Kelainan plasenta.
1.
Klasifikasi
Klasifikasi abortus
adalah sebagai berikut :
a.
Abortus iminens adalah
peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan selama 20 minggu,
saat hasil konsepsi masih dalam uterus tanpa adanya dilatasi serviks.
b.
Abortus insipiens
adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan
adanya dilatasi serviks uterus yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih dalam
uterus.
c.
Abortus inkompletus
adalah pengeluaran hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih
adanya sisa yang tertinggal dalam uterus.
d.
Abortus kompletus
adalah abortus yang hasil konsepsinya sudah dikeluarkan.
e.
Abortus servikalis
adalah keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium uterus
eksternum yang tidak membuka, sehingga semuanya terkumpul dalam kanalis
servikalis uterus menjadi besar, kurang lebih bundar dengan dinding menipis.
f.
Missed
abortion adalah kematian janin berusia sebelum
20 minggu, tetapi janin mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih.
g.
Abortus habitualis
adalah abortus yang berulang dengan frekuensi lebih dari 3 kali.
h.
Abortus septik adalah
abortus inveksius berat disertai penyebaran kuman atau toksin kedalam peredaran
darah atau peritoneum.
2.
Manifestasi
Klinis
Diduga abortus apabila
seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh tentang :
a.
Perdarahan pervagina
setelah mengalami haid yang terlambat.
b.
Sering terdapat rasa
mulas
c.
Keluhan nyeri pada
perut bagian bawah.
3.
Komplikasi
Komplikasi serius yang
bisa timbul akibat aborsi adalah:
a.
Pendarahan hebat
Jika leher rahim robek
atau terbuka lebar akan menimbukan pendarahan yang dapat berbahaya bagi
keselamatan ibu. Terkadang dibutuhkan pembedahan untuk menghentikan pendarahan
tersebut.
b.
Infeksi
Infeksi dapat
disebabkan oleh alat medis tidak steril yang dimasukkan ke dalam rahim atau
sisa janin yang tidak dibersihkan dengan benar.
c.
Aborsi tidak sempurna
Adanya bagian dari
janin yang tersisa di dalam rahim sehingga dapat menimbulkan perdarahan atau
infeksi.
d.
Sepsis (keracunan
darah)
Biasanya terjadi jika
aborsi menyebabkan infeksi tubuh secara total yang kemungkinan terburuknya
menyebabkan kematian.
e.
Kerusakan leher rahim
Kerusakan ini terjadi
akibat leher rahim yang terpotong, robek atau rusak akibat alat-alat aborsi
yang digunakan.
f.
Kerusakan organ lain
Saat alat dimasukkan ke
dalam rahim, maka ada kemungkinan alat tersebut menyebabkan kerusakan pada
organ terdekat seperti usus atau kandung kemih.
g.
Kematian
Meskipun komplikasi ini
jarang terjadi, tapi kematian bisa terjadi jika aborsi menyebabkan perdarahan
yang berlebihan, infeksi, kerusakan organ serta reaksi dari anestesi yang dapat
menyebabkan kematian.
h.
Gangguan kesehatan
mental
Aborsi dapat
mempengaruhi emosional dan spiritual pelakunya. Gangguan mental kadang muncul
seperti kecemasan, depresi atau mungkin mencoba melakukan bunuh diri.
4.
Penatalaksanaan
a. Ibu
hamil sebaiknya segera menemui dokter apabila perdarahan terjadi selama
kehamilan.
b. Istirahat
total dan dianjurkan untik relaksasi.
c. Terapi
intravena atau tranfusi darah dapat dilakukan bila diperlukan.
d. Pada
kasus aborsi inkomplet diusahakan untuk mengosongkan uterus melalui pembedahan,
begitu juga dengan kasus missed abortion
jika janin tidak keluar spontan.
e. Jika
penyebabnya adalah infeksi, evakuasi isi uterus sebainya ditunda sampai dapat
penyebab yang pasti untuk memulai terapi antibiotik.
8.
Pemeriksaan
Diagnostik
Pemeriksaan penunjang
yang umumnya dilakukan antara lain:
a.
Tes kehamilan akan
menunjukkan hasil positif bila janin masih hidup bahkan 2-3 hari setelah
abortus.
b.
Pemeriksaan Doppler
atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup.
c.
Pemeriksaan kadar
fibrinogen darah pada missed
abortion (Arif Mansjoer dkk, 2004).
A.
Asuhan
Keperawatan
1.
Pengakajian
Jika selama kehamilan
ditemukan perdarahan, indentifikasi :
a.
Lama kehamilan
b.
Kapan terjadi
perdarahan, berapa lama, banyaknya dan aktivitas yang memengaruhi.
c.
Karakteristik darah :
merah terang, kecoklatan, adanya gumpalan darah dan lendir.
d.
Sifat dan lokasi
ketidaknyamanan seperti kejang, nyeri tumpul atau tajam, mulas serta pusing.
e.
Gejala-gejala
hipovolemia seperti sinkop.
2.
Diagnosa
Keperawatan
Kemungkinan diagnosis
keperawatan yang muncul adalah sebagai berikut :
a.
Kurangnya volume cairan
berhubungan dengan kehilangan vaskular dalam jumlah berlebih.
b.
Perubahan perfusi
jaringan berhubungan dengan hipovolemia.
c.
Ketakutan berhubungan
dengan ancaman kematian pada diri sendiri dan janin.
d.
Nyeri berhubungan
dengan dilatasi serviks trauma jaringan dan kontraksi uterus.
e.
Resiko tinggi tinggi
terjadi infeksi berhubungan dengan penahanan hasil konsepsi.
3.
Intervensi
Keperawatan
a.
Diagnosa 1 : Kurangnya volume cairan berhubungan
dengan kehilangan vaskular dalam jumlah berlebih.
Kriteria hasil :
mendemonstrasikan kestabilan atau perbaiakan / perbaikan keseimbangan cairan
dibuktikan oleh tanda-tanda vital stabil, pengisian kapiler cepat, sensorium
tepat, serta pengeluaran dan berat jenis urine adekuat secara individual.
|
Rencana Intervensi
|
Rasional
|
||
|
Mandiri :
|
|||
|
1.
|
Evaluasi,
laporkan serta catat jumlah dan sifat kehilangan darah, lakukan perhitungan
pembalut, kemudian timbang pembalut.
|
1.
|
Perkirakan
kehilangan darah membantu membedakan diagnosis. Setiap gram peningkatan berat
pembalut sama dengan kehilangan kira-kira 1 ml darah.
|
|
2.
|
Lakukan
tirah baring, instruksikan ibu untuk valsalva manuver dan koitus.
|
2.
|
Perdarahan
dapat berhenti dengan reduksi aktivitas. Peningkatan tekanan abdomen atau
orgasme dapat merangsang perdarahan.
|
|
3.
|
Posisikan
ibu dengan tepat, telentang dengan panggul ditinggikan atau posisi
semifowler.
|
3.
|
Menjamin
keadekuatan darah yang tersedia untuk otak, peninggian panggul menghindari
kompresi vena kaya. Posisi semifowler memungkinkan janin bertindak sebagai
tampon.
|
|
4.
|
Catat
tanda-tanda vital, pengisian kapiler pada dasar kuku, warna membran mukosa
atau kulit dan suhu. Ukur tekanan vena sentral bila ada.
|
4.
|
Membantu
menentukan beratnya kehilangan darah meskipun sianosis dan perubahan pada
tekanan darah dan nadi adalah tanda-tanda lanjut dari kehilangan volume
sirkulasi.
|
|
5.
|
Pantau
aktivitas uterus, status janin, dan adanya nyeri tekan pada abdomen.
|
5.
|
Membantu
menentukan sifat hemoragi dan kemungkinan akibat dari peristiwa hemoragi.
|
|
6.
|
Hindari
pemeriksaan rektal atau vagina.
|
6.
|
Dapat
meningkatakan hemoragi.
|
|
7.
|
Pantau
masukan / keluaran cairan. Dapatkan sampel urine setiap jam, ukur berat jenis
|
7.
|
Menentukan
luasnya kehilangan cairan dan menunjukan perfusi ginjal.
|
|
8.
|
Auskultasi
bunyi nafas.
|
8.
|
Bunyi
nafas adventitus menunjukan ketidaktepatan / kelebihan pergantian.
|
|
9.
|
Simpan
jaringan atau hasil konsepsi yang keluar.
|
9.
|
Dokter
perlu mengevaluasi kemungkinan retensi jaringan, pemeriksaan histologi
mungkin diperlukan.
|
|
Kolaborasi :
|
|||
|
10.
|
Dapatkan
pemeriksaan darah cepat : HDL jenis dan pencocokan silang, titer Rh, kadar
fibrinogen, hitung trombosit, APTT dan kadar LCC.
|
10.
|
Menentukan
jumlah darah yang hilang dan dapat membetikan informasi mengenai penyebab
harus dipertahankan diatas 30% untuk mendukung transpor oksigen dan nutrien.
|
|
11.
|
Pasang
kateter
|
11.
|
Haluaran
kurang dari 30 ml/jam menandakan penurunan perfusi ginjal dan kemungkinan
terjadinya nekrosis tubuler. Keluaran yang tepat ditentukan oleh derajat
defisit individual dan kecepatan penggantian.
|
|
12.
|
Berikan
larutan intravena, ekspander plasma, darah lengkap atau sel-sel kemasan sesuai
indikasi.
|
12.
|
Meningkatkan
volume darah sirkulasi dan mengatasi gejala-gejala syok.
|
b.
Diagnosa 2 : Perubahan
perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia.
Kriteria hasil :
perfusi jaringan adekuat dibuktikan dengan denyut jantung janin (DJJ) dalam
batas normal.
|
Rencana Intervensi
|
Rasional
|
||
|
Mandiri :
|
|||
|
1.
|
Perhatikan
status fisiologis ibu, status sirkulasi dan volume darah.
|
1.
|
Kejadian
perdarahan potensial merusak hasil kehamilan. Kemungkinan menyebabkan
hipovolemia / hipoksia uteroplasenta.
|
|
2.
|
Auskultasi
dan laporkan DJJ. Catat bradikardi / takitardi. Catat perubahan pada
aktifitas janin.
|
2.
|
Mengkaji
berkanjutnya hipoksia janin, pada awalnya janin berespon pada penurunan kadar
oksigen dengan takikardi dan peningkatan gerakan. Bila tetap defisit,
bradikardi dan penurunan aktifitas terjadi.
|
|
3.
|
Catatan
kehilangan darah ibu karena adanya kontraksi uterus.
|
3.
|
Bila
kontraksi uterus disertai dilatasi serviks, tirah baring dan medikasi mungkin
tidak efektif dalam mempertahankan kehamilan. Kehilangan darah ibu secara
berlebihan menurunkan perfusi plasenta.
|
|
4.
|
Catat
tinggi fundus uteri.
|
4.
|
Menghilangkan
tekana pada vena kava inferior dan meningkatkan sirkulasi plasenta / janin
dan pertukaran oksigen.
|
|
5.
|
Anjurka
tirah baring pada posisi miring.
|
5.
|
Meningkatkan
ketersediaan oksigen untuk janin. Janin mempunyai beberapa kepastian
perlengkapan untuk mengatasi hipoksia, dimana disosiasi Hb janin lebih cepat
daripada Hb dewasa dan jumlah eritrosit janin lebih besar dari dewasa,
sehingga kapasitas oksigen yang dibawa janin meningkat.
|
|
Kolaborasi :
|
|||
|
6.
|
Berikan
suplemen oksigen. Lakukan sesuai indikasi.
|
6.
|
Mengevaluasi
dengan menggunakan doppler respon DJJ terhadap gerakan janin, bermanfaat
dalam menentukan apakah janin dalam keadaan asfiksia.
|
|
7.
|
Ganti
kehilangan darah / cairan ibu.
|
7.
|
Mempertahankan
volume sirkulasi yang adekuat untuk transpor oksigen. Hemoragi maternal
memengaruhi transpor oksigen ultraplasenta secara negatif, menimbulkan
kemungkinan kehilangan kehamilan atau memburuknya status janin. Bila
penyimpanan oksigen menetap, janin akan kehilangan tenaga untuk melakukan
mekanisme koping dan kemungkinan SSP rusak / janin, sehingga janin dapat
meninggal.
|
|
8.
|
Bantu
dengan ultrasonografi dan amniosentesis.
|
8.
|
Menentukan
maturitas janin dan usia gestasi. Membantu menentukan viabilitas dan
perkiraan hasil secara realistis.
|
|
9.
|
Dapatkan
tes darah ibu untuk mengevaluasi serum ibu, darah Hb, atau produk lavase
lambung.
|
9.
|
Membedakan
darah ibu dari darah janin dalam cairan amnion menunjukan implikasi terhadap
pemberian oksigen serta kebutuhan ibu terhadap injeksi imunoglobulin Rh
(RhIgG) bila kelahiran terjadi.
|
|
10.
|
Siapkan
ibu untuk intervensi bedah dengan tepat.
|
10.
|
Pembedahan
perlu dilakukan bila terjadi pelepasan plasenta yang berat atau bila
perdarahan berlebih, terjadi penyimpanan oksigen janin, dan kelahiran melalui
vagina tidak mungkin seperti pada kasus plasenta previa total, dimana
pembedahan mungkin perlu di indikasikan untuk menyelamatkan hidup janin.
|
c.
Diagnosa 3 : Ketakutan
berhubungan dengan ancaman kematian pada diri sendiri dan janin.
Kriteria hasil : ibu
mendiskusikan ketakutan mengenai diri janin dan masa depan kehamilan, juga
mengenai ketakutan yang sehat dan tidak sehat.
|
Rencana Intervensi
|
Rasional
|
||
|
Mandiri :
|
|||
|
1.
|
Diskusi
tentang situasi dan pemahaman tentang
situasi ibu dan pasangan.
|
1.
|
Memberikan
informasi tentang reaksi individu terhadap apa yang terjadi.
|
|
2.
|
Pantau
respon verbal dan nonverbal ibu dan pasangan.
|
2.
|
Menandai
tingkat rasa takut yang sedang dialami ibu / pasangan.
|
|
3.
|
Dengarkan
masalah ibu dengan seksama.
|
3.
|
Meningkatkan
rasa kontrol terhadap situasi dan memberikan kesempatan pada ibu untuk
mengembangkan solusi sendiri.
|
|
4.
|
Berikan
informasi dalam bentuk verbal dan tertulis serta beri kesempatan klien untuk
mengajukan pertanyaan.
|
4.
|
Pengetahuan
akan membantu ibu untuk mengatasi apa yang sedang terjadi dengan lebih
efektif. Informasi sebaiknya tertulis, agar nantinya memungkinkan ibu untuk
mengulang informasi akibat tingkat stres, ibu mungkin tidak dapat
mengasimilasi informasi. Jawaban yang jujur dapat meningkatkan pemahaman
dengan lebih baik serta menurunkan rasa takut.
|
|
5.
|
Libatkan
ibu dalam perencanaan dan partisipasi dalam perawatan sebanyak mungkin.
|
5.
|
Menjadikan
mampu melakukan sesuatu untuk membantu mengontrol situasi sehingga dapat
menurunkan rasa takut.
|
|
6.
|
Jelaskan
prosedur dan arti gejala.
|
6.
|
Pengetahuan
dapat membantu menurunkan rasa takut dan meningkatkan rasa kontrol terhadap
situasi.
|
DAFTAR
PUSTAKA
Carpenito,
Lynda. (2001). Buku Saku Diagnosa
Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta : EGC.
Hamilton,
C. Mary, 1995. Dasar-dasar Keperawatan
Maternitas, Edisi 6. Jakarta :
EGC.
Mansjoer,
Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta
Kedokteran, Jilid I. Jakarta : Media
Aesculapius.
Mitayani.
2009. Asuhan Keperawatan Maternitas.
Jakarta : Salemba Medika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar