II. Konsep Dasar Artritis Rematoid
A. Pengertian Artritis Rematoid
Artritis Rematoid (AR) adalah suatu penyakit peradangan kronik yang menyebabkan degenerasi jaringan ikat (Corwin, Elizabeth, 2000 : hal. 307).
Artritis Rematoid (AR) adalah suatu penyakit inflamasi otoimun sendi dan berbagai sistem. (Nettina, Sandra M, 2001 ; hal. 31).
Artritis Rematoid (AR) adalah gangguan kronik yang menyerang berbagai sistem organ. (Price, Sylvia Anderson, 2005 : hal. 1385).
Artritis Rematoid (AR) adalah suatu penyakit peradangan kronis sistemik yang menyerang berbgaai jaringan, tetapi pada dasarnya menyerang sendi untuk menghasilkan suatu sinovitis proliferatif nonsupuratif yang sering kali berkembang menjadi kehancuran tulang rawan sendi dan tulang dibawahnya dan menimbulkan kecacatan akibat arthritis. (Robbins, 2007 : hal. 151).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Artritis Rematoid (AR) adalah penyakit inflamasi otoimun sendi dan berbagai sistem organ tetapi pada dasarnya menyerang sendi untuk menghasilkan suatu sinovitis proliferatif nonsupuratif yang sering kali berkembang menjadi kehancuran tulang rawan dan tulang dibawahnya dan menimbulkan kecacatan akibat arthritis.
B. Etiologi
Penyebab Artritis Rematoid faktor pencetus mungkin suatu bakteri, mikroplasma, virus yang menginfeksi sendi atau mirip dengan sendi secara antigenis. Biasanya respon antibody awal terhadap mikro-organisme diperantai oleh IgG. Walaupun respon itu berhasil menghancurkan mikro-organisme, namun individu yang mengidap AR mulai membentuk antibody lain, biasanya IgM atau IgG, terhadap antibody IgG semula. Antibody yang ditujukan ke komponen tubuh sendiri ini disebut faktor rematoid (FR). FR menetap dikapsul sendi dan menimbulkan peradangan kronik dan destruksi jaringan. AR diperkirakan terjadi karena predisposisi genetik terhadap penyakit otoimun. (Corwin, Elizabeth J, 2000 : hal. 308).
Penyebab Artritis Rematoid belum diketahui. Faktor genetik dan beberapa faktor lingkungan telah lama diduga berperan dalam timbulnya penyakit ini. Hal ini dibuktikan dari terdaoatnya hubungan antara produk kompleks histokompatibilitas utama kelas II, khususnya HLA-DR4 dengan AR seropositif. Pengemban HLA-DR4 memiliki resiko relative 4 : 1 untuk menderita penyakit ini. (Rizasyah Daud, 1999 : hal. 2).
B. Klasifikasi
1. Stadium I (Stadium Sinovitis)
Pada tahap awal terjadi kongesti vascular, proliferasi sinovial disertai infiltrasi lapisan subsinovial oleh sel-sel polimorfi limfosit dan sel plasma. Selnjutnya terjadi penebalan struktur kapsul sendi disertai pembentukan vili pada sinovium dan efusi pada sendi/ pembungkus tendo.
2. Stadium II (Stadium Destruksi)
Pada stadium ini imflamasi berlanjut menjadi kronis serta terjadi destruksi sendi atau tendo. Kerusakan pada tulang rawan sendi disebabkan oleh enzim proteolitik dan jaringan vascular pada lipatan sinovia serta jaringan granulasi yang terbentuk. Pada permukaan sendi (panus), erosi tulang terjadi pada bagian tepi sendi akibat invasi jaringan granulasi dan resorpsi osteoklas. Pada tendo terjadi tenosinovitis disertai invasi kolagen yang dapat menyebabkan rupture tendo, baik persial ataupun total.
3. Stadium III (Stadium Deformitas)
Pada stadium ini kombinasi antara destruksi sendi, ketegangan selaput sendi dan rupture tendo akan menyebabkan instabilitas dan deformitas sendi. Kelainan yang mungkin ditemukan pada stadium ini adalah ankilosis jaringan yang selanjutnya dapat menjadi ankilosis tulang. Imflamasi yang terjadi mungkin sudah berkurang dan kelainan yang timbul terutama karena gangguan mekanisme dan fungsional pada sendi.
C. Manifestasi Klinis
Gambaran klinis AR sangant bervariasi bergantung pada keluhan, pada stadium awal biasanya ditandai dengan gangguan keadaan umum berupa malaise, penurunan berat badan, rasa capek, sedikit panas dan anemia. Gejala lokal yang terjadi berupa pembengkakan, nyeri, kekakuan dipagi hari selama 1 jam dan gangguan gerak pada sendi metakarpofalangeal. Pada stadium lanjut terjadikerusakan sendi dan deformitas yang bersifat permanent, selanjutnya timbul ketidakstabilan sendi akibat ruptur tendo/ligament yang menyebabkan deformitas rematoid yang khas berupa deviasi ulnar jari, deviasi radial serta valgus lutut dan kaki.
D. Komplikasi
Komplikasi pada penderita AR adalah terjadinya perubahan bentuk tubuh pada tulang dan sendi serta dapat mengakibatkan pengeroposan tulang.
E. Penatalaksanaan Medis
Tujuan penatalaksanaan reumatoid artritis adalah mengurangi nyeri, mengurangi inflamasi, menghentikan kerusakan sendi dan meningkatkan fungsi dan kemampuan mobilisasi penderita (Lemone & Burke, 2001).
Adapun penatalaksanaan umum pada rheumatoid arthritis antara lain :
1. Pemberian terapi
Pengobatan pada rheumatoid arthritis meliputi pemberian aspirin untuk mengurangi nyeri dan proses inflamasi, NSAIDs untuk mengurangi inflamasi, pemberian corticosteroid sistemik untuk memperlambat destruksi sendi dan imunosupressive terapi untuk menghambat proses autoimun.
2. Pengaturan aktivitas dan istirahat
Pada kebanyakan penderita, istirahat secara teratur merupakan hal penting untuk mengurangi gejala penyakit. Pembebatan sendi yang terkena dan pembatasan gerak yang tidak perlu akan sangat membantu dalam mengurangi progresivitas inflamasi. Namun istirahat harus diseimbangkan dengan latihan gerak untuk tetap menjaga kekuatan otot dan pergerakan sendi.
3. Kompres panas dan dingin
Kompres panas dan dingin digunakan untuk mendapatkan efek analgesic dan relaksan otot. Dalam hal ini kompres hangat lebih efektive daripada kompres dingin.
4. Diet
Untuk penderita rheumatoid arthritis disarankan untuk mengatur dietnya. Diet yang disarankan yaitu asam lemak omega-3 yang terdapat dalam minyak ikan.
5. Pembedahan
Pembedahan dilakukan apabila rheumatoid arthritis sudah mencapai tahap akhir. Bentuknya dapat berupa tindakan arhthrodesis untuk menstabilkan sendi, arthoplasty atau total join replacement untuk mengganti sendi.
Pembedahan dilakukan apabila rheumatoid arthritis sudah mencapai tahap akhir. Bentuknya dapat berupa tindakan arhthrodesis untuk menstabilkan sendi, arthoplasty atau total join replacement untuk mengganti sendi.
I. Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian Keperawatan
1. Aktivitas/ istirahat
Gejala : Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stres pada sendi; kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi bilateral dan simetris. Limitasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu senggang, pekerjaan, keletihan.
Tanda : Malaise, keterbatasan rentang gerak; atrofi otot, kulit, kontraktor/ kelaianan pada sendi.
2. Kardiovaskuler
Gejala : Fenomena Raynaud jari tangan/ kaki ( mis: pucat intermitten, sianosis, kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal).
Gejala : Fenomena Raynaud jari tangan/ kaki ( mis: pucat intermitten, sianosis, kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal).
3. Integritas Ego
Gejala : Faktor-faktor stres akut/ kronis: mis; finansial, pekerjaan, ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan. Keputusan dan ketidakberdayaan ( situasi ketidakmampuan ). Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi ( misalnya ketergantungan pada orang lain).
4. Makanan/ cairan
Gejala ; Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/ cairan adekuat: mual, anoreksia. Kesulitan untuk mengunyah.
Tanda : Penurunan berat badan, kekeringan pada membran mukosa.
5. Hygiene
Gejala : Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi. Ketergantungan.
Gejala : Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi. Ketergantungan.
6. Neurosensori
Gejala : Kebas, semutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari tangan.
Tanda : Pembengkakan sendi simetris.
7. Nyeri/ kenyamanan
Gejala : Fase akut dari nyeri (mungkin tidak disertai oleh pembengkakan jaringan lunak pada sendi).
8. Keamanan
Gejala : Kulit mengkilat, tegang, nodul subkutan, Lesi kulit, ulkus kaki. Kesulitan dalam ringan dalam menangani tugas/ pemeliharaan rumah tangga. Demam ringan menetap. Kekeringan pada mata dan membran mukosa.
Gejala : Kulit mengkilat, tegang, nodul subkutan, Lesi kulit, ulkus kaki. Kesulitan dalam ringan dalam menangani tugas/ pemeliharaan rumah tangga. Demam ringan menetap. Kekeringan pada mata dan membran mukosa.
9. Interaksi social
Gejala : Kerusakan interaksi sosial dengan keluarga/ orang lain; perubahan peran; isolasi.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut/kronis berhubungkan dengan : agen pencedera; distensi jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.
2. Kerusakan Mobilitas Fisik berhubungan dengan: Deformitas skeletal, nyeri, ketidaknyamanan, Intoleransi aktivitas, penurunan kekuatan otot.
3. Gangguan citra tubuh / perubahan penampilan peran berhubungan dengan perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum, peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas.
4. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal; penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi.
5. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan kurangnya pemahaman/ mengingat,kesalahan interpretasi informasi
C. Intervensi Keperawatan
1. Diagnosa 1 : Nyeri akut/kronis berhubungkan dengan : agen pencedera; distensi jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.
Kriteria Hasil: Menunjukkan nyeri hilang/ terkontrol, terlihat rileks, dapat tidur/beristirahat dan berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan, mengikuti program farmakologis yang diresepkan. menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan ke dalam program kontrol nyeri.
Intervensi
|
Rasional
| ||
Mandiri
| |||
1.
|
Kaji nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0-10).
Catat faktor-faktor yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal.
|
1.
|
Membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan keefektifan program.
|
2.
|
Berikan matras/ kasur keras, bantal kecil,. Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan.
|
2.
|
Matras yang lembut / empuk, bantal yang besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan stress pada sendi yang sakit. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan pada sendi yang terinflamasi /nyeri.
|
3.
|
Tempatkan / pantau penggunaan bantal, karung pasir, gulungan trokhanter, bebat, brace.
|
3.
|
Mengistirahatkan sendi-sendi yang sakit dan mempertahankan posisi netral. Penggunaan brace dapat menurunkan nyeri dan dapat mengurangi kerusakan pada sendi.
|
4.
|
Dorong untuk sering mengubah posisi,. Bantu untuk bergerak di tempat tidur, sokong sendi yang sakit di atas dan bawah, hindari gerakan yang menyentak.
|
4.
|
Mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi. Menstabilkan sendi, mengurangi gerakan / rasa sakit pada sendi.
|
5.
|
Anjurkan pasien untuk mandi air hangat atau mandi pancuran pada waktu bangun dan / atau pada waktu tidur. Sediakan waslap hangat untuk mengompres sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari. Pantau suhu air kompres, air mandi, dan sebagainya.
|
5.
|
Panas meningkatkan relaksasi otot, dan mobilitas, menurunkan rasa sakit dan melepaskan kekakuan di pagi hari. Sensitivitas pada panas dapat dihilangkan dan luka dermal dapat disembuhkan.
|
6.
|
Berikan masase yang lembut.
|
6.
|
Meningkatkan relaksasi / mengurangi nyeri.
|
7.
|
Dorong penggunaan teknik manajemen stres, misalnya relaksasi progresif,sentuhan terapeutik, biofeed back, visualisasi, pedoman imajinasi, hypnosis diri, dan pengendalian napas.
|
7.
|
Meningkatkan relaksasi, memberikan rasa kontrol dan mungkin meningkatkan kemampuan koping.
|
8.
|
Libatkan dalam aktivitas hiburan yang sesuai untuk situasi individu.
|
8.
|
Memfokuskan kembali perhatian, memberikan stimulasi, dan meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan sehat.
|
9.
|
Beri obat sebelum aktivitas/ latihan yang direncanakan sesuai petunjuk.
|
9.
|
Meningkatkan realaksasi, mengurangi tegangan otot/ spasme, memudahkan untuk ikut serta dalam terapi.
|
10.
|
Berikan es kompres dingin jika dibutuhkan.
|
10.
|
Rasa dingin dapat menghilangkan nyeri dan bengkak selama periode akut.
|
Kolaborasi :
| |||
11.
|
Berikan obat-obatan sesuai petunjuk (mis:asetil salisilat).
|
11.
|
Sebagai anti inflamasi dan efek analgesik ringan dalam mengurangi kekakuan dan meningkatkan mobilitas.
|
2. Diagnosa 2 : Kerusakan Mobilitas Fisik berhubungan dengan: Deformitas skeletal, Nyeri, ketidaknyamanan, Intoleransi aktivitas, penurunan kekuatan otot.
Kriteria Hasil : mempertahankan fungsi posisi dengan tidak hadirnya/ pembatasan kontraktur, mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari dan/ atau konpensasi bagian tubuh, mendemonstrasikan tehnik/ perilaku yang memungkinkan melakukan aktivitas.
Intervensi
|
Rasional
| ||
Mandiri :
| |||
1.
|
Evaluasi/ lanjutkan pemantauan tingkat inflamasi/ rasa sakit pada sendi
|
1.
|
Tingkat aktivitas / latihan tergantung dari perkembangan / resolusi dari peoses inflamasi.
|
2.
|
Pertahankan istirahat tirah baring / duduk jika diperlukan jadwal aktivitas untuk memberikan periode istirahat yang terus menerus dan tidur malam hari yang tidak terganggu.
|
2.
|
Istirahat sistemik dianjurkan selama eksaserbasi akut dan seluruh fase penyakit yang penting untuk mencegah kelelahan mempertahankan kekuatan.
|
3.
|
Bantu dengan rentang gerak aktif/pasif, demikiqan juga latihan resistif dan isometris jika memungkinkan.
|
3.
|
Mempertahankan / meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina umum. Catatan : latihan tidak adekuat menimbulkan kekakuan sendi, karenanya aktivitas yang berlebihan dapat merusak sendi.
|
4.
|
Ubah posisi dengan sering dengan jumlah personel cukup. Demonstrasikan / bantu tehnik pemindahan dan penggunaan bantuan mobilitas, mis, trapeze.
|
4.
|
Menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi. Memepermudah perawatan diri dan kemandirian pasien. Tehnik pemindahan yang tepat dapat mencegah robekan abrasi kulit.
|
5.
|
Posisikan dengan bantal, kantung pasir, gulungan trokanter, bebat, brace.
|
5.
|
Meningkatkan stabilitas (mengurangi resiko cidera) dan memerptahankan posisi sendi yang diperlukan dan kesejajaran tubuh, mengurangi kontraktor.
|
6.
|
Gunakan bantal kecil/tipis di bawah leher.
|
6.
|
Mencegah fleksi leher.
|
7.
|
Dorong pasien mempertahankan postur tegak dan duduk tinggi, berdiri, dan berjalan.
|
7.
|
Memaksimalkan fungsi sendi dan mempertahankan mobilitas.
|
8.
|
Berikan lingkungan yang aman, misalnya menaikkan kursi, menggunakan pegangan tangga pada toilet, penggunaan kursi roda.
|
8.
|
Menghindari cidera akibat kecelakaan/ jatuh.
|
Kolaborasi :
| |||
9.
|
Konsul dengan fisoterapi. (
|
9.
|
Berguna dalam memformulasikan program latihan/ aktivitas yang berdasarkan pada kebutuhan individual dan dalam mengidentifikasikan alat.
|
10.
|
Berikan matras busa/ pengubah tekanan.
|
10.
|
Menurunkan tekanan pada jaringan yang mudah pecah untuk mengurangi risiko imobilitas.
|
11.
|
Berikan obat-obatan sesuai indikasi (steroid).
|
11.
|
Mungkin dibutuhkan untuk menekan sistem inflamasi akut.
|
3. Diagnosa 3 : Gangguan citra tubuh / perubahan penampilan peran berhubungan dengan perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum, peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas.
Kriteria Hasil : mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan untuk menghadapi penyakit, perubahan pada gaya hidup, dan kemungkinan keterbatasan, menyusun rencana realistis untuk masa depan.
Intervensi
|
Rasional
| |||
Mandiri :
| ||||
1.
|
Dorong pengungkapan mengenai masalah tentang proses penyakit, harapan masa depan.
|
1.
|
Berikan kesempatan untuk mengidentifikasi rasa takut / kesalahan konsep dan menghadapinya secara langsung.
| |
2.
|
Diskeusikan arti dari kehilangan / perubahan pada pasien / orang terdekat. Memastikan bagaimana pandangaqn pribadi pasien dalam memfungsikan gaya hidup sehari-hari, termasuk aspek-aspek seksual.
|
2.
|
Mengidentifikasi bagaimana penyakit mempengaruhi persepsi diri dan interaksi dengan orang lain akan menentukan kebutuhan terhadap intervensi / konseling lebih lanjut.
| |
3.
|
Diskusikan persepsi pasienmengenai bagaimana orang terdekat menerima keterbatasan.
|
3.
|
Isyarat verbal/non verbal orang terdekat dapat mempunyai pengaruh mayor pada bagaimana pasien memandang dirinya sendiri.
| |
4.
|
Akui dan terima perasaan berduka, bermusuhan, ketergantungan.
|
4.
|
Nyeri konstan akan melelahkan, dan perasaan marah dan bermusuhan umum terjadi.
| |
5.
|
Perhatikan perilaku menarik diri, penggunaan menyangkal atau terlalu memperhatikan perubahan.
|
5.
|
Dapat menunjukkan emosional ataupun metode koping maladaptive, membutuhkan intervensi lebih lanjut.
| |
6.
|
Susun batasan pada perilaku mal adaptif. Bantu pasien untuk mengidentifikasi perilaku positif yang dapat membantu koping.
|
6.
|
Membantu pasien untuk mempertahankan kontrol diri, yang dapat meningkatkan perasaan harga diri.
| |
7.
|
Ikut sertakan pasien dalam merencanakan perawatan dan membuat jadwal aktivitas.
|
7.
|
Meningkatkan perasaan harga diri, mendorong kemandirian, dan mendorong berpartisipasi dalam terapi.
| |
8.
|
Bantu dalam kebutuhan perawatan yang diperlukan.
|
8.
|
Mempertahankan penampilan yang dapat meningkatkan citra diri.
| |
9.
|
Berikan bantuan positif bila perlu.
|
9.
|
Memungkinkan pasien untuk merasa senang terhadap dirinya sendiri. Menguatkan perilaku positif. Meningkatkan rasa percaya diri.
| |
Kolaborasi :
| ||||
10.
|
Kolaborasi: Rujuk pada konseling psikiatri, mis: perawat spesialis psikiatri, psikolog.
|
10.
|
Pasien / orang terdekat mungkin membutuhkan dukungan selama berhadapan dengan proses jangka panjang / ketidakmampuan.
| |
11.
|
Kolaborasi: Berikan obat-obatan sesuai petunjuk, mis; anti ansietas dan obat-obatan peningkat alam perasaan.
|
11.
|
Mungkin dibutuhkan pada sat munculnya depresi hebat sampai pasien mengembangkan kemapuan koping yang lebih efektif.
| |
4. Diagnosa 4 : Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal; penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi.
Kriteria Hasil : melaksanakan aktivitas perawatan diri pada tingkat yang konsisten dengan kemampuan individual, mendemonstrasikan perubahan teknik/ gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri, mengidentifikasi sumber-sumber pribadi/ komunitas yang dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri.
Intervensi
|
Rasional
| ||
Mandiri :
| |||
1.
|
Diskusikan tingkat fungsi umum (0-4) sebelum timbul awitan/ eksaserbasi penyakit dan potensial perubahan yang sekarang diantisipasi.
|
1.
|
Mungkin dapat melanjutkan aktivitas umum dengan melakukan adaptasi yang diperlukan pada keterbatasan saat ini.
|
2.
|
Pertahankan mobilitas, kontrol terhadap nyeri dan program latihan.
|
2.
|
Mendukung kemandirian fisik / emosional.
|
3.
|
Kaji hambatan terhadap partisipasi dalam perawatan diri. Identifikasi /rencana untuk modifikasi lingkungan.
|
3.
|
Menyiapkan untuk meningkatkan kemandirian, yang akan meningkatkan harga diri)
|
Kolaborasi :
| |||
4.
|
Kolaborasi: Konsul dengan ahli terapi okupasi.
|
4.
|
Berguna untuk menentukan alat bantu untuk memenuhi kebutuhan individual. Mis; memasang kancing, menggunakan alat bantu memakai sepatu, menggantungkan pegangan untuk mandi pancuran.
|
5.
|
Kolaborasi: Atur evaluasi kesehatan di rumah sebelum pemulangan dengan evaluasi setelahnya.
|
5.
|
Mengidentifikasi masalah-masalah yang mungkin dihadapi karena tingkat kemampuan actual.
|
6.
|
Kolaborasi : atur konsul dengan lembaga lainnya, mis: pelayanan perawatan rumah, ahli nutrisi.
|
6.
|
Mungkin membutuhkan berbagai bantuan tambahan untuk persiapan situasi di rumah.
|
5. Diagnosa 5 : Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan kurangnya pemahaman/ mengingat,kesalahan interpretasi informasi.
Kriteria Hasil : menunjukkan pemahaman tentang kondisi/ prognosis, perawatan, mengembangkan rencana untuk perawatan diri, termasuk modifikasi gaya hidup yang konsisten dengan mobilitas dan atau pembatasan aktivitas.
Intervensi
|
Rasional
| ||
Mandiri
| |||
1.
|
Tinjau proses penyakit, prognosis, dan harapan masa depan.
|
1.
|
Memberikan pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi.
|
2.
|
Diskusikan kebiasaan pasien dalam penatalaksanaan proses sakit melalui diet,obat-obatan, dan program diet seimbang, l;atihan dan istirahat.
|
2.
|
Tujuan kontrol penyakit adalah untuk menekan inflamasi sendiri/ jaringan lain untuk mempertahankan fungsi sendi dan mencegah deformitas.
|
3.
|
Bantu dalam merencanakan jadwal aktivitas terintegrasi yang realistis,istirahat, perawatan pribadi, pemberian obat-obatan, terapi fisik, dan manajemen stres.
|
3.
|
Memberikan struktur dan mengurangi ansietas pada waktu menangani proses penyakit kronis kompleks.
|
4.
|
Tekankan pentingnya melanjutkan manajemen farmakoterapeutik.
|
4.
|
Keuntungan dari terapi obat-obatan tergantung pada ketepatan dosis.
|
5.
|
Anjurkan mencerna obat-obatan dengan makanan, susu, atau antasida pada waktu tidur.
|
5.
|
Membatasi irigasi gaster, pengurangan nyeri pada HS akan meningkatkan tidur dan mengurangi kekakuan di pagi hari.
|
6.
|
Identifikasi efek samping obat-obatan yang merugikan, mis: tinitus, perdarahan gastrointestinal, dan ruam purpuruik.
|
6.
|
Memperpanjang dan memaksimalkan dosis aspirin dapat mengakibatkan takar lajak. Tinitus umumnya mengindikasikan kadar terapeutik darah yang tinggi.
|
7.
|
Tekankan pentingnya membaca label produk dan mengurangi penggunaan obat-obat yang dijual bebas tanpa persetujuan dokter.
|
7.
|
Banyak produk mengandung salisilat tersembunyi yang dapat meningkatkan risiko takar layak obat/ efek samping yang berbahaya.
|
8.
|
Tinjau pentingnya diet yang seimbang dengan makanan yang banyak mengandung vitamin, protein dan zat besi.
|
8.
|
Meningkatkan perasaan sehat umum dan perbaikan jaringan.
|
9.
|
Dorong pasien obesitas untuk menurunkan berat badan dan berikan informasi penurunan berat badan sesuai kebutuhan.
|
9.
|
Pengurangan berat badan akan mengurangi tekanan pada sendi, terutama pinggul, lutut, pergelangan kaki, telapak kaki.
|
10.
|
Berikan informasi mengenai alat bantu
|
10.
|
Mengurangi paksaan untuk menggunakan sendi dan memungkinkan individu untuk ikut serta secara lebih nyaman dalam aktivitas yang dibutuhkan.
|
11.
|
Diskusikan teknik menghemat energi, mis: duduk daripada berdiri untuk mempersiapkan makanan dan mandi .
|
11.
|
Mencegah kepenatan, memberikan kemudahan perawatan diri, dan kemandirian.
|
12
|
Dorong mempertahankan posisi tubuh yang benar baik pada sat istirahat maupun pada waktu melakukan aktivitas, misalnya menjaga agar sendi tetap meregang , tidak fleksi, menggunakan bebat untuk periode yang ditentukan, menempatkan tangan dekat pada pusat tubuh selama menggunakan, dan bergeser daripada mengangkat benda jika memungkinkan.
|
12.
|
Mekanika tubuh yang baik harus menjadi bagian dari gaya hidup pasien untuk mengurangi tekanan sendi dan nyeri.
|
13.
|
Tinjau perlunya inspeksi sering pada kulit dan perawatan kulit lainnya dibawah bebat, gips, alat penyokong. Tunjukkan pemberian bantalan yang tepat.
|
13.
|
Mengurangi resiko iritasi/ kerusakan kulit.
|
14.
|
Diskusikan pentingnya obat obatan lanjutan/ pemeriksaan laboratorium, mis: LED, Kadar salisilat, PT.
|
14.
|
Terapi obat obatan membutuhkan pengkajian/ perbaikan yang terus menerus untuk menjamin efek optimal dan mencegah takar lajak, efek samping yang berbahaya.
|
15.
|
Berikan konseling seksual sesuai kebutuhan
|
15.
|
Informasi mengenai posisi-posisi yang berbeda dan tehnik atau pilihan lain untuk pemenuhan seksual mungkin dapat meningkatkan hubungan pribadi dan perasaan harga diri/ percaya diri.
|
16.
|
Identifikasi sumber-sumber komunitas, mis: yayasan arthritis ( bila ada).
|
16.
|
Bantuan/ dukungan dari oranmg lain untuk meningkatkan pemulihan maksimal.
|
Good and thank for share, beginilah cara untuk menjadi distributor gamat luxor cara menjadi distributor jeli gamat luxor dengan menjadi member anda berhak mendapatkan harga member dan distributor yang terbaik lihat detailnya jaga senantiasa kesehatan anda dengan Cara meningkatkan fungsi ginjal agar tidak cuci darah , obat infeksi radang usus , gejala dan pengobatan klep jantung bocor , pengobatan penyakit infeksi paru-paru terbaik ,thanks.
BalasHapus