Pelayanan
kesehatan maternal dan
neonatal merupakan salah satu unsur
penentu status kesehatan. Pelayanan kesehatan neonatal dimulai sebelum
bayi dilahirkan, melalui pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil. Pertumbuhan
dan perkembangan bayi periode
neonatal merupakan periode yang
paling kritis karena dapat menyebabkan kesakitan dan kematian bayi.
Setiap tahun
diperkirakan 4 juta bayi meninggal pada bulan pertama kehidupan dan dua pertiganya meninggal pada
minggu pertama. Penyebab utama kematian pada minggu pertama kehidupan adalah
komplikasi kehamilan dan persalinan seperti
asfiksia, sepsis dan komplikasi berat lahir rendah. Kurang lebih 98% kematian ini terjadi di negara berkembang
dan sebagian besar kematian ini dapat dicegah dengan pencegahan dini dan
pengobatan yang tepat. (WHO, 2003.)
Berdasarkan data World
Health Organization (WHO), setiap tahunnya
kirakira 3% (3,6 juta) dari 120 juta bayi baru lahir di dunia mengalami
asfiksia, hampir satu juta bayi ini meninggal. Survei WHO tahun 2002 dan 2004
menyebutkan bahwa sekitar 23% seluruh kematian
neonatal disebabkan oleh asfiksia dengan proporsi lahir mati yang lebih
besar. (Arixs, 2006). Menurut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI) tahun 2007angka kematian bayi sebesar 34 kematian/1000 kelahiran hidup.
Angka kematian bayi ini sebanyak 47% meninggal pada masa neonatal,
setiap lima menit terdapat satu neonatus yang meninggal.
Adapun penyebab
kematian bayi baru lahir di Indonesia, salah satunya asfiksia yaitu sebesar 27% yang merupakan
penyebab ke-2 kematian bayi baru lahir setelah Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
(Depkes. RI, 2008) .
Asfiksia termasuk dalam
bayi baru lahir dengan risiko
tinggi karena memiliki kemungkinan lebih
besar mengalami kematian bayi atau menjadi sakit berat dalam masa neonatal.
Asfiksia adalah keadaan bayi baru lahir
tidak dapat bernafas secara spontan dan
teratur. Asfiksia atau gagal nafas dapat menyebabkan suplai oksigen ke tubuh
menjadi terhambat, jika terlalu lama membuat bayi menjadi koma, walaupun sadar
dari koma bayi akan mengalami cacat otak.
Kejadian asfiksia jika
berlangsung terlalu lama dapat menimbulkan perdarahan otak, kerusakan otak dan
kemudian keterlambatan tumbuh kembang. Asfiksia juga dapat menimbulkan cacat
seumur hidup seperti buta, tuli, cacat otak
dan kematian. Oleh karena
itu asfiksia memerlukan intervensi dan
tindakan yang tepat untuk meminimalkan
terjadinya kematian bayi, yaitu pelaksanaan manajemen asfiksia pada bayi
baru lahir yang bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan
membatasi gejala sisa berupa kelainan neurology yang mungkin muncul, dengan
kegiatan yang difokuskan pada persiapan resusitasi, keputusan resusitasi bayi
baru lahir, tindakan resusitasi, asuhan pasca resusitasi, asuhan tindak lanjut
pasca resusitasi dan pencegahan infeksi. (Depkes.RI, 2008).
A.
Konsep
Dasar
1.
Pengertian
Asfiksia Neonatus adalah
suatu keadaan bayi baru lahir yang tidak segera bernafas secara spontan dan
teratur setelah dilahirkan (Mochtar, 1989).
Asfiksia
neonatus adalah keadaan bayi
yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga dapat meurunkan O2 dan
makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih
lanjut (Manuaba, 1998).
Asfiksia
neonatus adalah keadaan bayi
baru lahir yang tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur dalam satu menit
setelah lahir (Mansjoer, 2000).
Asfiksia berarti
hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis, bila proses ini
berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau kematian.
Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya (Saiffudin, 2001).
Asfiksia lahir ditandai
dengan hipoksemia (penurunan PaO2), hiperkarbia (peningkatan PaCO2), dan
asidosis (penurunan PH).
2.
Klsifikasi
Asfiksia
Asfiksia neonatorum
diklasifikasikan sebagai berikut :
a.
Asfiksia Ringan ( vigorus baby)
Skor APGAR 7-10, bayi
dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa.
b.
Asfiksia sedang ( mild moderate asphyksia)
Skor APGAR 4-6, pada
pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi jantung lebih dari 100/menit, tonus
otot kurang baik atau baik, sianosis, reflek iritabilitas tidak ada.
c.
Asfikksia Berat
Skor APGAR 0-3, pada
pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100 x permenit, tonus
otot buruk, sianosis berat, dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak
ada. Pada asphyksia dengan henti jantung yaitu bunyi jantung fetus menghilang
tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir lengkap atau bunyi jantung menghilang
post partum, pemeriksaan fisik sama pada asfiksia berat.
3.
Etiologi
Penyebab asfiksia menurut
Mochtar (1989) adalah :
a.
Asfiksia dalam
kehamilan
1)
Penyakit infeksi akut
2)
Penyakit infeksi kronik
3)
Keracunan oleh
obat-obat bius
4)
Uraemia dan toksemia
gravidarum
5)
Anemia berat
6)
Cacat bawaan
7)
Trauma
b.
Asfiksia dalam
persalinan
1)
Kekurangan O2.
a)
Partus lama (CPD, rigid
serviks dan atonia/ insersi uteri).
b)
Ruptur uteri yang
memberat, kontraksi uterus yang terus-menerus mengganggu sirkulasi darah ke
uri.
c)
Tekanan terlalu kuat dari
kepala anak pada plasenta.
d)
Prolaps fenikuli tali
pusat akan tertekan antara kepaladan panggul.
e)
Pemberian obat bius
terlalu banyak dan tidak tepat pada waktunya.
f)
Perdarahan banyak :
plasenta previa dan solutio plasenta.
g)
Kalau plasenta sudah
tua : postmaturitas (serotinus), disfungsi uteri.
2)
Paralisis pusat
pernafasan
a)
Trauma dari luar seperti
oleh tindakan forseps
b)
Trauma dari dalam :
akibat obet bius.
Penyebab
asfiksia Stright (2004) adalah :
a.
Faktor ibu
1)
Hipoksia Ibu
Dapat terjadi karena
hipoventilasi akibat pemberian obat analgetik atau anestesi dalam, dan kondisi
ini akan menimbulkan hipoksia janin dengan segala akibatnya.
2)
Gangguan aliran darah
uterus
Berkurangnya aliran
darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya aliran oksigen ke plasenta dan
juga ke janin, kondisi ini sering ditemukan pada gangguan kontraksi uterus,
hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan, hipertensi pada penyakit
eklamsi.
b.
Faktor Plasenta
Pertukaran gas antara
ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta, asfiksis janin dapat
terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya perdarahan
plasenta, solusio plasenta.
c.
Faktor Umbilikal
(Fetus)
Kompresi umbilikus akan
mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pembuluh darah umbilikus dan
menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat
ditemukan pada keadaan talipusat menumbung, melilit leher, kompresi tali pusat
antara jalan lahir dan janin.
d.
Faktor Janin (Neonatus)
Depresi pusat
pernapasan pada bayi baru lahir dapat terjadi karena beberapa hal yaitu
pemakaian obat anestesi yang berlebihan pada ibu, trauma yang terjadi saat
persalinan misalnya perdarahan intra kranial, kelainan kongenital pada bayi
misalnya hernia diafragmatika, atresia atau stenosis saluran pernapasan,
hipoplasia paru.
4.
Patofisiologi
Bila janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah, timbulah rangsangan terhadap nervus vagus sehingga DJJ (denyut jantung janin) menjadi lambat. Jika kekurangan O2 terus berlangsung maka nervus vagus tidak dapat dipengaruhi lagi. Timbulah kini rangsangan dari nervus simpatikus sehingga DJJ menjadi lebih cepat akhirnya ireguler dan menghilang. Janin akan mengadakan pernafasan intrauterin dan bila kita periksa kemudian terdapat banyak air ketuban dan mekonium dalam paru, bronkus tersumbat dan terjadi atelektasis. Bila janin lahir, alveoli tidak berkembang.
Bila janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah, timbulah rangsangan terhadap nervus vagus sehingga DJJ (denyut jantung janin) menjadi lambat. Jika kekurangan O2 terus berlangsung maka nervus vagus tidak dapat dipengaruhi lagi. Timbulah kini rangsangan dari nervus simpatikus sehingga DJJ menjadi lebih cepat akhirnya ireguler dan menghilang. Janin akan mengadakan pernafasan intrauterin dan bila kita periksa kemudian terdapat banyak air ketuban dan mekonium dalam paru, bronkus tersumbat dan terjadi atelektasis. Bila janin lahir, alveoli tidak berkembang.
Apabila asfiksia
berlanjut, gerakan pernafasan akan ganti, denyut jantung mulai menurun
sedangkan tonus neuromuskuler berkurang secara berangsur-angsur dan bayi
memasuki periode apneu primer.
Jika berlanjut, bayi akan menunjukkan pernafasan yang dalam, denyut jantung terus menurun , tekanan darah bayi juga mulai menurun dan bayi akan terluhat lemas (flascid). Pernafasan makin lama makin lemah sampai bayi memasuki periode apneu sekunder. Selama apneu sekunder, denyut jantung, tekanan darah dan kadar O2 dalam darah (PaO2) terus menurun. Bayi sekarang tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak akan menunjukkan upaya pernafasan secara spontan. Kematian akan terjadi jika resusitasi dengan pernafasan buatan dan pemberian tidak dimulai segera.
Jika berlanjut, bayi akan menunjukkan pernafasan yang dalam, denyut jantung terus menurun , tekanan darah bayi juga mulai menurun dan bayi akan terluhat lemas (flascid). Pernafasan makin lama makin lemah sampai bayi memasuki periode apneu sekunder. Selama apneu sekunder, denyut jantung, tekanan darah dan kadar O2 dalam darah (PaO2) terus menurun. Bayi sekarang tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak akan menunjukkan upaya pernafasan secara spontan. Kematian akan terjadi jika resusitasi dengan pernafasan buatan dan pemberian tidak dimulai segera.
5.
Manifestasi
Klinik
a.
Pada Kehamilan
Denyut jantung janin lebih
cepat dari 160 x/mnt atau kurang dari 100 x/mnt, halus dan ireguler serta
adanya pengeluaran mekonium.
1)
Jika DJJ normal dan ada
mekonium : janin mulai asfiksia.
2)
Jika DJJ 160 x/mnt ke
atas dan ada mekonium : janin sedang asfiksia.
3)
Jika DJJ 100 x/mnt ke
bawah dan ada mekonium : janin dalam gawat.
b.
Pada bayi setelah lahir
1)
Bayi pucat dan
kebiru-biruan
2)
Usaha bernafas minimal
atau tidak ada
3)
Hipoksia
4)
Asidosis metabolik atau
respiratori
5)
Perubahan fungsi
jantung
6)
Kegagalan sistem
multiorgan
7)
Kalau sudah mengalami perdarahan
di otak maka ada gejala neurologik : kejang, nistagmus, dan menangis kurang
baik/ tidak menangis.
6.
Komplikasi
Komplikasi yang muncul
pada asfiksia neonatus antara lain :
a.
Edema otak & Perdarahan
otak
Pada penderita asfiksia
dengan gangguan fungsi jantung yang telah berlarut sehingga terjadi renjatan
neonatus, sehingga aliran darah ke otak pun akan menurun, keadaaan ini akan
menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang berakibat terjadinya edema otak, hal
ini juga dapat menimbulkan perdarahan otak.
b.
Anuria atau oliguria
Disfungsi ventrikel
jantung dapat pula terjadi pada penderita asfiksia, keadaan ini dikenal istilah
disfungsi miokardium pada saat terjadinya, yang disertai dengan perubahan
sirkulasi. Pada keadaan ini curah jantung akan lebih banyak mengalir ke organ
seperti mesentrium dan ginjal. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya
hipoksemia pada pembuluh darah mesentrium dan ginjal yang menyebabkan
pengeluaran urine sedikit.
c.
Kejang
Pada bayi yang mengalami asfiksia akan mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran CO2 hal ini dapat menyebabkan kejang pada anak tersebut karena perfusi jaringan tak efektif.
Pada bayi yang mengalami asfiksia akan mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran CO2 hal ini dapat menyebabkan kejang pada anak tersebut karena perfusi jaringan tak efektif.
d.
Koma
Apabila pada pasien asfiksia berat segera tidak ditangani akan menyebabkan koma karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan pada otak.
Apabila pada pasien asfiksia berat segera tidak ditangani akan menyebabkan koma karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan pada otak.
7.
Penatalaksanaan
Tindakan untuk
mengatasi asfiksia neonatorum disebut resusitasi bayi baru lahir yang bertujuan
untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa yang
mungkin muncul.
Tindakan resusitasi
bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal dengan ABC resusitasi :
a.
Memastika saluran nafas
terbuka :
1)
Meletakan bayi dalam
posisi yang benar
2)
Menghisap mulut
kemudian hidung k/p trakhea
3)
Bila perlu masukan Et
untuk memastikan pernapasan terbuka
b.
Memulai pernapasan :
1)
Lakukan rangsangan
taktil
2)
Bila perlu lakukan
ventilasi tekanan positif
c.
Mempertahankan
sirkulasi darah :
1)
Rangsang dan
pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada atau bila perlu
menggunakan obat-obatan.
2)
Cara resusitasi dibagi
dalam tindakan umum dan tindakan khusus.
a)
Tindakan umum : pengawasan
suhu, pembersihan jalan nafas dan rangsang untuk menimbulkan pernafasan.
b)
Tindakan khusus :
Aspiksia
berat : Resusitasi aktif harus segera
dilaksanakan, langkah utama memperbaiki ventilasi paru dengan pemberian O2
dengan tekanan dan intermiten, cara terbaik dengan intubasi endotrakeal lalu
diberikan O2 tidak lebih dari 30 mmHg. Asphiksia berat hampir selalu disertai
asidosis, koreksi dengan bikarbonas natrium 2-4 mEq/kgBB, diberikan pula
glukosa 15-20 % dengan dosis 2-4ml/kgBB. Kedua obat ini disuntuikan kedalam
intra vena perlahan melalui vena umbilikalis, reaksi obat ini akan terlihat
jelas jika ventilasi paru sedikit banyak telah berlangsung. Usaha pernapasan
biasanya mulai timbul setelah tekanan positif diberikan 1-3 kali, bila setelah
3 kali inflasi tidak didapatkan perbaikan pernapasan atau frekuensi jantung,
maka masase jantung eksternal dikerjakan dengan frekuensi 80-100/menit.
Tindakan ini diselingi ventilasi tekanan dalam perbandingan 1:3 yaitu setiap
kali satu ventilasi tekanan diikuti oleh 3 kali kompresi dinding toraks, jika
tindakan ini tidak berhasil bayi harus dinilai kembali, mungkin hal ini
disebabkan oleh ketidakseimbangan asam dan basa yang belum dikoreksi atau
gangguan organik seperti hernia diafragmatika atau stenosis jalan nafas.
Aspiksia
sedang: Stimulasi agar timbul reflek pernapasan
dapat dicoba, bila dalam waktu 30-60 detik tidak timbul pernapasan spontan,
ventilasi aktif harus segera dilakukan, ventilasi sederhana dengan kateter O2
intranasaldengan aliran 1-2 lt/mnt, bayi diletakkan dalam posisi dorsofleksi
kepala. Kemudian dilakukan gerakan membuka dan menutup nares dan mulut disertai
gerakan dagu keatas dan kebawah dengan frekuensi 20 kali/menit, sambil
diperhatikan gerakan dinding toraks dan abdomen. Bila bayi memperlihatkan
gerakan pernapasan spontan, usahakan mengikuti gerakan tersebut, ventilasi
dihentikan jika hasil tidak dicapai dalam 1-2 menit, sehingga ventilasi paru
dengan tekanan positif secara tidak langsung segera dilakukan, ventilasi dapat
dilakukan dengan dua cara yaitu dengan dari mulut ke mulut atau dari ventilasi
ke kantong masker. Pada ventilasi dari mulut ke mulut, sebelumnya mulut
penolong diisi dulu dengan O2, ventilasi dilakukan dengan frekuensi 20-30 kali
permenit dan perhatikan gerakan nafas spontan yang mungkin timbul. Tindakan
dinyatakan tidak berhasil jika setelah dilakukan berberapa saat terjasi
penurunan frekuensi jantung atau perburukan tonus otot, intubasi endotrakheal
harus segera dilakukan, bikarbonas natrikus dan glukosa dapat segera diberikan,
apabila 3 menit setelah lahir tidak memperlihatkan pernapasan teratur, meskipun
ventilasi telah dilakukan dengan adekuat.
8.
Pemeriksaan
Diagnostik
a.
PH tali pusat : tingkat
7,20 sampai 7,24 menunjukkan status parasidosis, tingkat rendah menunjukkan
asfiksia bermakna.
b.
Hemoglobin/ hematokrit
(HB/ Ht) : kadar Hb 15-20 gr dan Ht 43%-61%.
c.
Tes combs langsung pada
daerah tali pusat. Menentukan adanya kompleks antigen-antibodi pada membran sel
darah merah, menunjukkan kondisi hemolitik.
B.
Asuhan
Keperwatan pada Bayi dengan Asfiksia
1.
Pengkajian
a.
Sirkulasi
1)
Nadi apikal dapat
berfluktuasi dari 110 sampai 180 x/mnt. Tekanan darah 60 sampai 80 mmHg
(sistolik), 40 sampai 45 mmHg (diastolik).
2)
Bunyi jantung, lokasi
di mediasternum dengan titik intensitas maksimal tepat di kiri dari mediastinum
pada ruang intercosta III/ IV.
3)
Murmur biasa terjadi di
selama beberapa jam pertama kehidupan.
4)
Tali pusat putih dan
bergelatin, mengandung 2 arteri dan 1 vena.
b.
Eliminasi
Dapat berkemih saat
lahir.
c.
Makanan/ cairan
1)
Berat badan : 2500-4000
gram
2)
Panjang badan : 44-45
cm
3)
Turgor kulit elastis
(bervariasi sesuai gestasi)
d.
Neurosensori
1)
Tonus otot : fleksi
hipertonik dari semua ekstremitas.
2)
Sadar dan aktif
mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit pertama setelah kelahiran
(periode pertama reaktivitas).
3)
Penampilan asimetris
(molding, edema, hematoma).
4)
Menangis kuat, sehat,
nada sedang (nada menangis tinggi menunjukkan abnormalitas genetik, hipoglikemi
atau efek narkotik yang memanjang).
e.
Pernafasan
1)
Skor APGAR : 1
menit...... 5 menit....... skor optimal harus antara 7-10.
2)
Rentang dari 30-60
permenit, pola periodik dapat terlihat.
3)
Bunyi nafas bilateral,
kadang-kadang krekels umum pada awalnya silindrik thorak : kartilago xifoid
menonjol, umum terjadi.
f.
Keamanan
1)
Suhu rentang dari 36,5º
C sampai 37,5º C. Ada verniks (jumlah dan distribusi tergantung pada usia
gestasi).
2)
Kulit : lembut,
fleksibel, pengelupasan tangan/ kaki dapat terlihat, warna merah muda atau
kemerahan, mungkin belang-belang menunjukkan memar minor (misal : kelahiran
dengan forseps), atau perubahan warna herlequin, petekie pada kepala/ wajah
(dapat menunjukkan peningkatan tekanan berkenaan dengan kelahiran atau tanda
nukhal), bercak portwine, nevi telengiektasis (kelopak mata, antara alis mata,
atau pada nukhal) atau bercak mongolia (terutama punggung bawah dan bokong)
dapat terlihat. Abrasi kulit kepala mungkin ada (penempatan elektroda
internal).
2.
Diagnosa
Keperawatan
a.
Bersihan jalan nafas
tidak efektif b.d produksi mukus banyak.
b.
Pola nafas tidak
efektif b.d hipoventilasi/ hiperventilasi
c.
Kerusakan pertukaran
gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi.
d.
Risiko cedera b.d
anomali kongenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi pemajanan pada
agen-agen infeksius.
e.
Risiko
ketidakseimbangan suhu tubuh b.d kurangnya suplai O2 dalam darah.
f.
Proses keluarga terhenti
b.d pergantian dalam status kesehatan anggota keluarga.
3.
Intervensi
Dx1. Bersihan jalan
nafas tidak efektif b.d produksi mukus banyak.
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama proses keperawatan diharapkan jalan nafas lancar.
NOC
I : Status Pernafasan : Kepatenan
Jalan Nafas
Kriteria
Hasil :
a.
Tidak menunjukkan
demam.
b.
Tidak menunjukkan
cemas.
c.
Rata-rata repirasi
dalam batas normal.
d.
Pengeluaran sputum
melalui jalan nafas.
e.
Tidak ada suara nafas
tambahan.
NOC
II :
a.
Status Pernafasan : Pertukaran
Gas
b.
Kriteria Hasil :
c.
Mudah dalam bernafas.
d.
Tidak menunjukkan
kegelisahan.
e.
Tidak adanya sianosis.
f.
PaCO2 dalam batas
normal.
g.
PaO2 dalam batas
normal.
h.
Keseimbangan perfusi
ventilasi
i.
Keterangan skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan
NIC
I : Suction jalan nafas
Intevensi
:
a.
Tentukan kebutuhan
oral/ suction tracheal.
b.
Auskultasi suara nafas
sebelum dan sesudah suction .
c.
Beritahu keluarga
tentang suction.
d.
Bersihkan daerah bagian
tracheal setelah suction selesai dilakukan.
e.
Monitor status oksigen
pasien, status hemodinamik segera sebelum, selama dan sesudah suction.
NIC
II : Resusitasi : Neonatus
Intervensi
:
a.
Siapkan perlengkapan
resusitasi sebelum persalinan.
b.
Tes resusitasi bagian
suction dan aliran O2 untuk memastikan dapat berfungsi dengan baik.
c.
Tempatkan BBL di bawah
lampu pemanas radiasi.
d.
Masukkan laryngoskopy
untuk memvisualisasi trachea untuk menghisap mekonium.
e.
Intubasi dengan
endotracheal untuk mengeluarkan mekonium dari jalan nafas bawah.
f.
Berikan stimulasi
taktil pada telapak kaki atau punggung bayi.
g.
Monitor respirasi.
h.
Lakukan auskultasi
untuk memastikan vetilasi adekuat.
Dx.
2 : Pola nafas tidak efektif b.d hipoventilasi/ hiperventilasi.
Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan pola nafas
menjadi efektif.
NOC : Status
respirasi : Ventilasi
Kriteria hasil :
a.
Pasien menunjukkan pola
nafas yang efektif.
b.
Ekspansi dada simetris.
c.
Tidak ada bunyi nafas
tambahan.
d.
Kecepatan dan irama
respirasi dalam batas normal.
e.
Keterangan skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan
NIC : Manajemen jalan nafas
Intervensi :
a.
Pertahankan kepatenan
jalan nafas dengan melakukan pengisapan lender.
b.
Pantau status
pernafasan dan oksigenasi sesuai dengan kebutuhan.
c.
Auskultasi jalan nafas
untuk mengetahui adanya penurunan ventilasi.
d.
Kolaborasi dengan
dokter untuk pemeriksaan AGD dan pemakaian alan bantu nafas
e.
Siapkan pasien untuk
ventilasi mekanik bila perlu.
f.
Berikan oksigenasi
sesuai kebutuhan.
Dx. 3 : Kerusakan
pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi.
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama proses keperawatan diharapkan pertukaran gas teratasi.
NOC
: Status respiratorius :
Pertukaran gas
Kriteria
hasil :
a.
Tidak sesak nafas
b.
Fungsi paru dalam batas
normal
c.
Keterangan skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan
NIC : Manajemen asam basa
Intervensi :
a.
Kaji bunyi paru,
frekuensi nafas, kedalaman nafas dan produksi sputum.
b.
Pantau saturasi O2
dengan oksimetri
c.
Pantau hasil Analisa
Gas Darah
Dx. 4 : Risiko cedera
b.d anomali kongenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi pemajanan pada
agen-agen infeksius.
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama proses keperawatan diharapkan risiko cidera dapat dicegah.
NOC
: Pengetahuan : Keamanan Anak
Kriteria
hasil :
a.
Bebas dari cidera/
komplikasi.
b.
Mendeskripsikan aktivitas
yang tepat dari level perkembangan anak.
c.
Mendeskripsikan teknik
pertolongan pertama.
d.
Keterangan Skala :
1 : Tidak sama sekali
2 : Sedikit
3 : Agak
4 : Kadang
5 : Selalu
NIC : Kontrol Infeksi
Intervensi :
a.
Cuci tangan setiap
sebelum dan sesudah merawat bayi.
b.
Pakai sarung tangan
steril.
c.
Lakukan pengkajian
fisik secara rutin terhadap bayi baru lahir, perhatikan pembuluh darah tali
pusat dan adanya anomali.
d.
Ajarkan keluarga
tentang tanda dan gejala infeksi dan melaporkannya pada pemberi pelayanan kesehatan.
e.
Berikan agen imunisasi
sesuai indikasi (imunoglobulin hepatitis B dari vaksin hepatitis B bila serum
ibu mengandung antigen permukaan hepatitis B (Hbs Ag), antigen inti hepatitis B
(Hbs Ag) atau antigen E (Hbe Ag).
Dx. 5 : Risiko
ketidakseimbangan suhu tubuh b.d kurangnya suplai O2 dalam darah.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama proses keperawatan diharapkan suhu tubuh normal.
NOC I : Termoregulasi : Neonatus
Kriteria Hasil :
a.
Temperatur badan dalam
batas normal.
b.
Tidak terjadi distress
pernafasan.
c.
Tidak gelisah.
d.
Perubahan warna kulit.
e.
Bilirubin dalam batas
normal.
f.
Keterangan skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan
NIC I : Perawatan Hipotermi
Intervensi :
a.
Hindarkan pasien dari
kedinginan dan tempatkan pada lingkungan yang hangat.
b.
Monitor gejala yang
berhubungan dengan hipotermi, misal fatigue, apatis, perubahan warna kulit dll.
c.
Monitor temperatur dan
warna kulit.
d.
Monitor TTV.
e.
Monitor adanya
bradikardi.
f.
Monitor status
pernafasan.
NIC II : Temperatur Regulasi
Intervensi :
a.
Monitor temperatur BBL
setiap 2 jam sampai suhu stabil.
b.
Jaga temperatur suhu
tubuh bayi agar tetap hangat.
c.
Tempatkan BBL pada
inkubator bila perlu.
Dx. 6 : Proses keluarga
terhenti b.d pergantian dalam status kesehatan anggota keluarga.
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama proses keperawatan diharapkan koping keluarga adekuat.
NOC
I : Koping keluarga
Kriteria
Hasil :
a.
Percaya dapat mengatasi
masalah.
b.
Kestabilan prioritas.
c.
Mempunyai rencana
darurat.
d.
Mengatur ulang cara
perawatan.
e.
Keterangan skala :
1 : Tidak pernah
dilakukan
2 : Jarang dilakukan
3 : Kadang dilakukan
4 : Sering dilakukan
5 : Selalu dilakukan
NOC II : Status Kesehatan Keluarga
Kriteria Hasil :
a.
Status kekebalan
anggota keluarga.
b.
Anak mendapatkan
perawatan tindakan pencegahan.
c.
Akses perawatan
kesehatan.
d.
Kesehatan fisik anggota
keluarga.
e.
Keterangan Skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan
NIC I : Pemeliharaan proses keluarga
Intervensi :
a.
Tentukan tipe proses
keluarga.
b.
Identifikasi efek
pertukaran peran dalam proses keluarga.
c.
Bantu anggota keluarga
untuk menggunakan mekanisme support yang ada.
d.
Bantu anggota keluarga
untuk merencanakan strategi normal dalam segala situasi.
NIC II : Dukungan Keluarga
Intervensi :
a.
Pastikan anggota
keluarga bahwa pasien memperoleh perawat yang terbaik.
b.
Tentukan prognosis
beban psikologi dari keluarga.
c.
Beri harapan realistik.
d.
Identifikasi alam
spiritual yang diberikan keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8.
Jakarta : EGC.
Hassan, R dkk. 1985. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Bagian Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jilid 3. Jakarta
: Informedika.
Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga.
Jilid II. Jakarta : Media Aesculapius.
Manuaba, I. B. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan
Keluarga Berencana. Jakarta : EGC.
Mochtar. R. 1989. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC.
Saifudin. A. B. 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.
Santosa, B. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Definisi
dan Klasifikasi. Jakarta : Prima Medika.
Straight. B. R. 2004. Keperawatan Ibu Baru Lahir. Edisi 3.
Jakarta : EGC.
Wilkinson. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan
Intervensi NIC dan Criteria Hasil NOC. Edisi
7. Jakarta : EGC.
Yoedhas, Flyingdutchman. 2012. Asuhan Keperwatan Pada Bayi Dengan Asfiksia.
Diambil pada Tanggal 16 Februari 2012 Pukul 11.36 WIB dari http://yoedhasflyingdutchman.blogspot.com/2010/04/asuhan-keperawatan-bayi-dengan-asfiksia.html
Thanks, its good information for me. Bagi yang mencari pengobatan alternatif diabetes melitus yang aman dan ampuh tanpa efek samping dapatkan informasi lengkapnya disini silahkan baca selengkapnya dengan cara nutural alami kami menawarkan obat alami jantung bengkak , pengobatan radang usus dan infeksi usus secara alami , agen resmi penjualan jeli gamat luxor, cara mengobati gagal ginjal salam.
BalasHapus