Selasa, 04 Juni 2013

it's aLL about Askep BBL dengan Afiksia

Pelayanan kesehatan  maternal  dan  neonatal merupakan salah satu unsur  penentu status kesehatan. Pelayanan kesehatan neonatal dimulai sebelum bayi dilahirkan, melalui pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil. Pertumbuhan dan perkembangan bayi periode   neonatal  merupakan periode yang paling kritis karena dapat menyebabkan kesakitan dan kematian bayi. 

Setiap tahun diperkirakan 4 juta bayi meninggal pada bulan pertama  kehidupan dan dua pertiganya meninggal pada minggu pertama. Penyebab utama kematian pada minggu pertama kehidupan adalah komplikasi kehamilan dan persalinan seperti  asfiksia, sepsis dan komplikasi berat lahir rendah. Kurang lebih  98% kematian ini terjadi di negara berkembang dan sebagian besar kematian ini dapat dicegah dengan pencegahan dini dan pengobatan yang tepat. (WHO, 2003.) 

Berdasarkan data World Health Organization (WHO), setiap tahunnya  kirakira 3% (3,6 juta) dari 120 juta bayi baru lahir di dunia mengalami asfiksia, hampir satu juta bayi ini meninggal. Survei WHO tahun 2002 dan 2004 menyebutkan bahwa sekitar 23% seluruh kematian  neonatal disebabkan oleh asfiksia dengan proporsi lahir mati yang lebih besar. (Arixs, 2006). Menurut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007angka kematian bayi sebesar 34 kematian/1000 kelahiran hidup. Angka kematian bayi ini sebanyak 47% meninggal pada masa  neonatal,  setiap lima menit terdapat satu neonatus yang meninggal.

Adapun penyebab kematian bayi baru lahir di Indonesia, salah satunya  asfiksia yaitu sebesar 27% yang merupakan penyebab ke-2 kematian bayi baru lahir setelah Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) (Depkes. RI, 2008) .

Asfiksia termasuk dalam bayi baru lahir  dengan risiko tinggi  karena memiliki kemungkinan lebih besar mengalami kematian bayi atau menjadi sakit berat dalam masa neonatal. Asfiksia adalah keadaan bayi  baru lahir tidak  dapat bernafas secara spontan dan teratur. Asfiksia atau gagal nafas dapat menyebabkan suplai oksigen ke tubuh menjadi terhambat, jika terlalu lama membuat bayi menjadi koma, walaupun sadar dari koma bayi akan mengalami cacat otak.


Kejadian asfiksia jika berlangsung terlalu lama dapat menimbulkan perdarahan otak, kerusakan otak dan kemudian keterlambatan tumbuh kembang. Asfiksia juga dapat menimbulkan cacat seumur hidup seperti buta, tuli, cacat otak  dan kematian.  Oleh karena itu  asfiksia memerlukan intervensi dan tindakan yang tepat untuk meminimalkan  terjadinya kematian bayi, yaitu pelaksanaan manajemen asfiksia pada bayi baru lahir yang bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa berupa kelainan neurology yang mungkin muncul, dengan kegiatan yang difokuskan pada persiapan resusitasi, keputusan resusitasi bayi baru lahir, tindakan resusitasi, asuhan pasca resusitasi, asuhan tindak lanjut pasca resusitasi dan pencegahan infeksi. (Depkes.RI, 2008).

A.      Konsep Dasar
1.         Pengertian
Asfiksia Neonatus adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang tidak segera bernafas secara spontan dan teratur setelah dilahirkan (Mochtar, 1989).
Asfiksia neonatus adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga dapat meurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut (Manuaba, 1998).

Asfiksia neonatus adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur dalam satu menit setelah lahir (Mansjoer, 2000).

Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis, bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya (Saiffudin, 2001).

Asfiksia lahir ditandai dengan hipoksemia (penurunan PaO2), hiperkarbia (peningkatan PaCO2), dan asidosis (penurunan PH).

2.         Klsifikasi Asfiksia
Asfiksia neonatorum diklasifikasikan sebagai berikut :
a.         Asfiksia Ringan ( vigorus baby)
Skor APGAR 7-10, bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa.


b.        Asfiksia sedang ( mild moderate asphyksia)
Skor APGAR 4-6, pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi jantung lebih dari 100/menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, reflek iritabilitas tidak ada.
c.         Asfikksia Berat
Skor APGAR 0-3, pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100 x permenit, tonus otot buruk, sianosis berat, dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada. Pada asphyksia dengan henti jantung yaitu bunyi jantung fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir lengkap atau bunyi jantung menghilang post partum, pemeriksaan fisik sama pada asfiksia berat.

3.         Etiologi
Penyebab asfiksia menurut Mochtar (1989) adalah :
a.         Asfiksia dalam kehamilan
1)        Penyakit infeksi akut
2)        Penyakit infeksi kronik
3)        Keracunan oleh obat-obat bius
4)        Uraemia dan toksemia gravidarum
5)        Anemia berat
6)        Cacat bawaan
7)        Trauma
b.        Asfiksia dalam persalinan
1)        Kekurangan O2.
a)         Partus lama (CPD, rigid serviks dan atonia/ insersi uteri).
b)        Ruptur uteri yang memberat, kontraksi uterus yang terus-menerus mengganggu sirkulasi darah ke uri.
c)         Tekanan terlalu kuat dari kepala anak pada plasenta.
d)        Prolaps fenikuli tali pusat akan tertekan antara kepaladan panggul.
e)         Pemberian obat bius terlalu banyak dan tidak tepat pada waktunya.
f)         Perdarahan banyak : plasenta previa dan solutio plasenta.
g)        Kalau plasenta sudah tua : postmaturitas (serotinus), disfungsi uteri.
2)        Paralisis pusat pernafasan
a)         Trauma dari luar seperti oleh tindakan forseps
b)        Trauma dari dalam : akibat obet bius.
Penyebab asfiksia Stright (2004) adalah :
a.         Faktor ibu
1)        Hipoksia Ibu
Dapat terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetik atau anestesi dalam, dan kondisi ini akan menimbulkan hipoksia janin dengan segala akibatnya.
2)        Gangguan aliran darah uterus
Berkurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya aliran oksigen ke plasenta dan juga ke janin, kondisi ini sering ditemukan pada gangguan kontraksi uterus, hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan, hipertensi pada penyakit eklamsi.
b.        Faktor Plasenta
Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta, asfiksis janin dapat terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya perdarahan plasenta, solusio plasenta.
c.         Faktor Umbilikal (Fetus)
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pembuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada keadaan talipusat menumbung, melilit leher, kompresi tali pusat antara jalan lahir dan janin.

d.        Faktor Janin (Neonatus)
Depresi pusat pernapasan pada bayi baru lahir dapat terjadi karena beberapa hal yaitu pemakaian obat anestesi yang berlebihan pada ibu, trauma yang terjadi saat persalinan misalnya perdarahan intra kranial, kelainan kongenital pada bayi misalnya hernia diafragmatika, atresia atau stenosis saluran pernapasan, hipoplasia paru.

4.         Patofisiologi
Bila janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah, timbulah rangsangan terhadap nervus vagus sehingga DJJ (denyut jantung janin) menjadi lambat. Jika kekurangan O2 terus berlangsung maka nervus vagus tidak dapat dipengaruhi lagi. Timbulah kini rangsangan dari nervus simpatikus sehingga DJJ menjadi lebih cepat akhirnya ireguler dan menghilang. Janin akan mengadakan pernafasan intrauterin dan bila kita periksa kemudian terdapat banyak air ketuban dan mekonium dalam paru, bronkus tersumbat dan terjadi atelektasis. Bila janin lahir, alveoli tidak berkembang.

Apabila asfiksia berlanjut, gerakan pernafasan akan ganti, denyut jantung mulai menurun sedangkan tonus neuromuskuler berkurang secara berangsur-angsur dan bayi memasuki periode apneu primer.
Jika berlanjut, bayi akan menunjukkan pernafasan yang dalam, denyut jantung terus menurun , tekanan darah bayi juga mulai menurun dan bayi akan terluhat lemas (flascid). Pernafasan makin lama makin lemah sampai bayi memasuki periode apneu sekunder. Selama apneu sekunder, denyut jantung, tekanan darah dan kadar O2 dalam darah (PaO2) terus menurun. Bayi sekarang tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak akan menunjukkan upaya pernafasan secara spontan. Kematian akan terjadi jika resusitasi dengan pernafasan buatan dan pemberian tidak dimulai segera.

5.         Manifestasi Klinik
a.         Pada Kehamilan
Denyut jantung janin lebih cepat dari 160 x/mnt atau kurang dari 100 x/mnt, halus dan ireguler serta adanya pengeluaran mekonium.
1)        Jika DJJ normal dan ada mekonium : janin mulai asfiksia.
2)        Jika DJJ 160 x/mnt ke atas dan ada mekonium : janin sedang asfiksia.
3)        Jika DJJ 100 x/mnt ke bawah dan ada mekonium : janin dalam gawat.
b.        Pada bayi setelah lahir
1)        Bayi pucat dan kebiru-biruan
2)        Usaha bernafas minimal atau tidak ada
3)        Hipoksia
4)        Asidosis metabolik atau respiratori
5)        Perubahan fungsi jantung
6)        Kegagalan sistem multiorgan
7)        Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala neurologik : kejang, nistagmus, dan menangis kurang baik/ tidak menangis.

6.         Komplikasi
Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatus antara lain :
a.         Edema otak & Perdarahan otak
Pada penderita asfiksia dengan gangguan fungsi jantung yang telah berlarut sehingga terjadi renjatan neonatus, sehingga aliran darah ke otak pun akan menurun, keadaaan ini akan menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang berakibat terjadinya edema otak, hal ini juga dapat menimbulkan perdarahan otak.
b.        Anuria atau oliguria
Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada penderita asfiksia, keadaan ini dikenal istilah disfungsi miokardium pada saat terjadinya, yang disertai dengan perubahan sirkulasi. Pada keadaan ini curah jantung akan lebih banyak mengalir ke organ seperti mesentrium dan ginjal. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya hipoksemia pada pembuluh darah mesentrium dan ginjal yang menyebabkan pengeluaran urine sedikit.
c.         Kejang
Pada bayi yang mengalami asfiksia akan mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran CO2 hal ini dapat menyebabkan kejang pada anak tersebut karena perfusi jaringan tak efektif.
d.        Koma
Apabila pada pasien asfiksia berat segera tidak ditangani akan menyebabkan koma karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan pada otak.

7.         Penatalaksanaan
Tindakan untuk mengatasi asfiksia neonatorum disebut resusitasi bayi baru lahir yang bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa yang mungkin muncul.

Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal dengan ABC resusitasi :
a.         Memastika saluran nafas terbuka :
1)        Meletakan bayi dalam posisi yang benar
2)        Menghisap mulut kemudian hidung k/p trakhea
3)        Bila perlu masukan Et untuk memastikan pernapasan terbuka
b.        Memulai pernapasan :
1)        Lakukan rangsangan taktil
2)        Bila perlu lakukan ventilasi tekanan positif
c.         Mempertahankan sirkulasi darah :
1)        Rangsang dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada atau bila perlu menggunakan obat-obatan.
2)        Cara resusitasi dibagi dalam tindakan umum dan tindakan khusus.
a)         Tindakan umum : pengawasan suhu, pembersihan jalan nafas dan rangsang untuk menimbulkan pernafasan.
b)        Tindakan khusus :
Aspiksia berat : Resusitasi aktif harus segera dilaksanakan, langkah utama memperbaiki ventilasi paru dengan pemberian O2 dengan tekanan dan intermiten, cara terbaik dengan intubasi endotrakeal lalu diberikan O2 tidak lebih dari 30 mmHg. Asphiksia berat hampir selalu disertai asidosis, koreksi dengan bikarbonas natrium 2-4 mEq/kgBB, diberikan pula glukosa 15-20 % dengan dosis 2-4ml/kgBB. Kedua obat ini disuntuikan kedalam intra vena perlahan melalui vena umbilikalis, reaksi obat ini akan terlihat jelas jika ventilasi paru sedikit banyak telah berlangsung. Usaha pernapasan biasanya mulai timbul setelah tekanan positif diberikan 1-3 kali, bila setelah 3 kali inflasi tidak didapatkan perbaikan pernapasan atau frekuensi jantung, maka masase jantung eksternal dikerjakan dengan frekuensi 80-100/menit. Tindakan ini diselingi ventilasi tekanan dalam perbandingan 1:3 yaitu setiap kali satu ventilasi tekanan diikuti oleh 3 kali kompresi dinding toraks, jika tindakan ini tidak berhasil bayi harus dinilai kembali, mungkin hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan asam dan basa yang belum dikoreksi atau gangguan organik seperti hernia diafragmatika atau stenosis jalan nafas.
Aspiksia sedang: Stimulasi agar timbul reflek pernapasan dapat dicoba, bila dalam waktu 30-60 detik tidak timbul pernapasan spontan, ventilasi aktif harus segera dilakukan, ventilasi sederhana dengan kateter O2 intranasaldengan aliran 1-2 lt/mnt, bayi diletakkan dalam posisi dorsofleksi kepala. Kemudian dilakukan gerakan membuka dan menutup nares dan mulut disertai gerakan dagu keatas dan kebawah dengan frekuensi 20 kali/menit, sambil diperhatikan gerakan dinding toraks dan abdomen. Bila bayi memperlihatkan gerakan pernapasan spontan, usahakan mengikuti gerakan tersebut, ventilasi dihentikan jika hasil tidak dicapai dalam 1-2 menit, sehingga ventilasi paru dengan tekanan positif secara tidak langsung segera dilakukan, ventilasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan dari mulut ke mulut atau dari ventilasi ke kantong masker. Pada ventilasi dari mulut ke mulut, sebelumnya mulut penolong diisi dulu dengan O2, ventilasi dilakukan dengan frekuensi 20-30 kali permenit dan perhatikan gerakan nafas spontan yang mungkin timbul. Tindakan dinyatakan tidak berhasil jika setelah dilakukan berberapa saat terjasi penurunan frekuensi jantung atau perburukan tonus otot, intubasi endotrakheal harus segera dilakukan, bikarbonas natrikus dan glukosa dapat segera diberikan, apabila 3 menit setelah lahir tidak memperlihatkan pernapasan teratur, meskipun ventilasi telah dilakukan dengan adekuat.

8.         Pemeriksaan Diagnostik
a.         PH tali pusat : tingkat 7,20 sampai 7,24 menunjukkan status parasidosis, tingkat rendah menunjukkan asfiksia bermakna.
b.        Hemoglobin/ hematokrit (HB/ Ht) : kadar Hb 15-20 gr dan Ht 43%-61%.
c.         Tes combs langsung pada daerah tali pusat. Menentukan adanya kompleks antigen-antibodi pada membran sel darah merah, menunjukkan kondisi hemolitik.


B.       Asuhan Keperwatan pada Bayi dengan Asfiksia
1.         Pengkajian
a.         Sirkulasi
1)        Nadi apikal dapat berfluktuasi dari 110 sampai 180 x/mnt. Tekanan darah 60 sampai 80 mmHg (sistolik), 40 sampai 45 mmHg (diastolik).
2)        Bunyi jantung, lokasi di mediasternum dengan titik intensitas maksimal tepat di kiri dari mediastinum pada ruang intercosta III/ IV.
3)        Murmur biasa terjadi di selama beberapa jam pertama kehidupan.
4)        Tali pusat putih dan bergelatin, mengandung 2 arteri dan 1 vena.
b.        Eliminasi
Dapat berkemih saat lahir.
c.         Makanan/ cairan
1)        Berat badan : 2500-4000 gram
2)        Panjang badan : 44-45 cm
3)        Turgor kulit elastis (bervariasi sesuai gestasi)
d.        Neurosensori
1)        Tonus otot : fleksi hipertonik dari semua ekstremitas.
2)        Sadar dan aktif mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit pertama setelah kelahiran (periode pertama reaktivitas).
3)        Penampilan asimetris (molding, edema, hematoma).
4)        Menangis kuat, sehat, nada sedang (nada menangis tinggi menunjukkan abnormalitas genetik, hipoglikemi atau efek narkotik yang memanjang).
e.         Pernafasan
1)        Skor APGAR : 1 menit...... 5 menit....... skor optimal harus antara 7-10.
2)        Rentang dari 30-60 permenit, pola periodik dapat terlihat.
3)        Bunyi nafas bilateral, kadang-kadang krekels umum pada awalnya silindrik thorak : kartilago xifoid menonjol, umum terjadi.
f.         Keamanan
1)        Suhu rentang dari 36,5º C sampai 37,5º C. Ada verniks (jumlah dan distribusi tergantung pada usia gestasi).
2)        Kulit : lembut, fleksibel, pengelupasan tangan/ kaki dapat terlihat, warna merah muda atau kemerahan, mungkin belang-belang menunjukkan memar minor (misal : kelahiran dengan forseps), atau perubahan warna herlequin, petekie pada kepala/ wajah (dapat menunjukkan peningkatan tekanan berkenaan dengan kelahiran atau tanda nukhal), bercak portwine, nevi telengiektasis (kelopak mata, antara alis mata, atau pada nukhal) atau bercak mongolia (terutama punggung bawah dan bokong) dapat terlihat. Abrasi kulit kepala mungkin ada (penempatan elektroda internal).

2.         Diagnosa Keperawatan
a.         Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d produksi mukus banyak.
b.        Pola nafas tidak efektif b.d hipoventilasi/ hiperventilasi
c.         Kerusakan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi.
d.        Risiko cedera b.d anomali kongenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi pemajanan pada agen-agen infeksius.
e.         Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh b.d kurangnya suplai O2 dalam darah.
f.         Proses keluarga terhenti b.d pergantian dalam status kesehatan anggota keluarga.

3.         Intervensi
Dx1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d produksi mukus banyak.
Tujuan :         Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan jalan nafas lancar.
NOC I :         Status Pernafasan : Kepatenan Jalan Nafas
Kriteria Hasil :
a.         Tidak menunjukkan demam.
b.        Tidak menunjukkan cemas.
c.         Rata-rata repirasi dalam batas normal.
d.        Pengeluaran sputum melalui jalan nafas.
e.         Tidak ada suara nafas tambahan.
NOC II :
a.         Status Pernafasan : Pertukaran Gas
b.        Kriteria Hasil :
c.         Mudah dalam bernafas.
d.        Tidak menunjukkan kegelisahan.
e.         Tidak adanya sianosis.
f.         PaCO2 dalam batas normal.
g.        PaO2 dalam batas normal.
h.        Keseimbangan perfusi ventilasi
i.          Keterangan skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan
NIC I :          Suction jalan nafas
Intevensi :
a.         Tentukan kebutuhan oral/ suction tracheal.
b.        Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suction .
c.         Beritahu keluarga tentang suction.
d.        Bersihkan daerah bagian tracheal setelah suction selesai dilakukan.
e.         Monitor status oksigen pasien, status hemodinamik segera sebelum, selama dan sesudah suction.

NIC II :         Resusitasi : Neonatus
Intervensi :
a.         Siapkan perlengkapan resusitasi sebelum persalinan.
b.        Tes resusitasi bagian suction dan aliran O2 untuk memastikan dapat berfungsi dengan baik.
c.         Tempatkan BBL di bawah lampu pemanas radiasi.
d.        Masukkan laryngoskopy untuk memvisualisasi trachea untuk menghisap mekonium.
e.         Intubasi dengan endotracheal untuk mengeluarkan mekonium dari jalan nafas bawah.
f.         Berikan stimulasi taktil pada telapak kaki atau punggung bayi.
g.        Monitor respirasi.
h.        Lakukan auskultasi untuk memastikan vetilasi adekuat.

Dx. 2 : Pola nafas tidak efektif b.d hipoventilasi/ hiperventilasi.
Tujuan :         Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan pola nafas menjadi efektif.
NOC :           Status respirasi : Ventilasi
Kriteria hasil :
a.         Pasien menunjukkan pola nafas yang efektif.
b.        Ekspansi dada simetris.
c.         Tidak ada bunyi nafas tambahan.
d.        Kecepatan dan irama respirasi dalam batas normal.
e.         Keterangan skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan



NIC :             Manajemen jalan nafas
Intervensi :
a.         Pertahankan kepatenan jalan nafas dengan melakukan pengisapan lender.
b.        Pantau status pernafasan dan oksigenasi sesuai dengan kebutuhan.
c.         Auskultasi jalan nafas untuk mengetahui adanya penurunan ventilasi.
d.        Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan AGD dan pemakaian alan bantu nafas
e.         Siapkan pasien untuk ventilasi mekanik bila perlu.
f.         Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan.

Dx. 3 : Kerusakan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi.
Tujuan :         Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan pertukaran gas teratasi.
NOC :           Status respiratorius : Pertukaran gas
Kriteria hasil :
a.         Tidak sesak nafas
b.        Fungsi paru dalam batas normal
c.         Keterangan skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan

NIC :             Manajemen asam basa
Intervensi :
a.         Kaji bunyi paru, frekuensi nafas, kedalaman nafas dan produksi sputum.
b.        Pantau saturasi O2 dengan oksimetri
c.         Pantau hasil Analisa Gas Darah
Dx. 4 : Risiko cedera b.d anomali kongenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi pemajanan pada agen-agen infeksius.
Tujuan :         Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan risiko cidera dapat dicegah.
NOC :           Pengetahuan : Keamanan Anak
Kriteria hasil :
a.         Bebas dari cidera/ komplikasi.
b.        Mendeskripsikan aktivitas yang tepat dari level perkembangan anak.
c.         Mendeskripsikan teknik pertolongan pertama.
d.        Keterangan Skala :
1 : Tidak sama sekali
2 : Sedikit
3 : Agak
4 : Kadang
5 : Selalu

NIC :             Kontrol Infeksi
Intervensi :
a.         Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah merawat bayi.
b.        Pakai sarung tangan steril.
c.         Lakukan pengkajian fisik secara rutin terhadap bayi baru lahir, perhatikan pembuluh darah tali pusat dan adanya anomali.
d.        Ajarkan keluarga tentang tanda dan gejala infeksi dan melaporkannya pada pemberi pelayanan kesehatan.
e.         Berikan agen imunisasi sesuai indikasi (imunoglobulin hepatitis B dari vaksin hepatitis B bila serum ibu mengandung antigen permukaan hepatitis B (Hbs Ag), antigen inti hepatitis B (Hbs Ag) atau antigen E (Hbe Ag).



Dx. 5 : Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh b.d kurangnya suplai O2 dalam darah.
Tujuan :         Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan suhu tubuh normal.
NOC I :         Termoregulasi : Neonatus
Kriteria Hasil :
a.         Temperatur badan dalam batas normal.
b.        Tidak terjadi distress pernafasan.
c.         Tidak gelisah.
d.        Perubahan warna kulit.
e.         Bilirubin dalam batas normal.
f.         Keterangan skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan

NIC I :          Perawatan Hipotermi
Intervensi :
a.         Hindarkan pasien dari kedinginan dan tempatkan pada lingkungan yang hangat.
b.        Monitor gejala yang berhubungan dengan hipotermi, misal fatigue, apatis, perubahan warna kulit dll.
c.         Monitor temperatur dan warna kulit.
d.        Monitor TTV.
e.         Monitor adanya bradikardi.
f.         Monitor status pernafasan.




NIC II :         Temperatur Regulasi
Intervensi :
a.         Monitor temperatur BBL setiap 2 jam sampai suhu stabil.
b.        Jaga temperatur suhu tubuh bayi agar tetap hangat.
c.         Tempatkan BBL pada inkubator bila perlu.

Dx. 6 : Proses keluarga terhenti b.d pergantian dalam status kesehatan anggota keluarga.
Tujuan :         Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan koping keluarga adekuat.
NOC I :         Koping keluarga
Kriteria Hasil :
a.         Percaya dapat mengatasi masalah.
b.        Kestabilan prioritas.
c.         Mempunyai rencana darurat.
d.        Mengatur ulang cara perawatan.
e.         Keterangan skala :
1 : Tidak pernah dilakukan
2 : Jarang dilakukan
3 : Kadang dilakukan
4 : Sering dilakukan
5 : Selalu dilakukan

NOC II :       Status Kesehatan Keluarga
Kriteria Hasil :
a.         Status kekebalan anggota keluarga.
b.        Anak mendapatkan perawatan tindakan pencegahan.
c.         Akses perawatan kesehatan.
d.        Kesehatan fisik anggota keluarga.
e.         Keterangan Skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan

NIC I :          Pemeliharaan proses keluarga
Intervensi :
a.         Tentukan tipe proses keluarga.
b.        Identifikasi efek pertukaran peran dalam proses keluarga.
c.         Bantu anggota keluarga untuk menggunakan mekanisme support yang ada.
d.        Bantu anggota keluarga untuk merencanakan strategi normal dalam segala situasi.

NIC II :         Dukungan Keluarga
Intervensi :
a.         Pastikan anggota keluarga bahwa pasien memperoleh perawat yang terbaik.
b.        Tentukan prognosis beban psikologi dari keluarga.
c.         Beri harapan realistik.
d.        Identifikasi alam spiritual yang diberikan keluarga.


DAFTAR PUSTAKA

Carpenito. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC.
Hassan, R dkk. 1985. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jilid 3. Jakarta : Informedika.
Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Jilid II. Jakarta : Media Aesculapius.
Manuaba, I. B. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Jakarta : EGC.
Mochtar. R. 1989. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC.
Saifudin. A. B. 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.
Santosa, B. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Definisi dan Klasifikasi. Jakarta : Prima Medika.
Straight. B. R. 2004. Keperawatan Ibu Baru Lahir. Edisi 3. Jakarta : EGC.
Wilkinson. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Criteria Hasil NOC. Edisi 7. Jakarta : EGC.
Yoedhas, Flyingdutchman. 2012. Asuhan Keperwatan Pada Bayi Dengan Asfiksia. Diambil pada Tanggal 16 Februari 2012 Pukul 11.36 WIB dari http://yoedhasflyingdutchman.blogspot.com/2010/04/asuhan-keperawatan-bayi-dengan-asfiksia.html

1 komentar: